Minggu, 08 Mei 2011

PEMIKIRAN SOSIAL KEAGAMAAN

Share it Please


PENGANTAR
Islam sebagai ajaran memang satu, tetapi polyinterpretable (pemahaman terhadap islam itu beragam). Munculnya interprestasi yang beragam terhadap islam tersebut disebabkan berbagai faktor.Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi dan membentuk pemahaman kaum muslimin terhadap islam. Situasi sosiologis, cultural, dan intelektual. Munculnya berbagai aliran (mazhab) dalam lapangan fiqh, teologi, filsafat, dan lain-lain dalam islam , misalnya menunjukan bahwa ajaran-ajaran islam itu multi-interpretatif, banyak penafsiran. Watak multiinterpretatif ini telah berperan sebagai dasar dari kelenturan islam dalam sejarah. Islam yang empiris dan actual karena berbagai perbedaan dalam konteks sosial, ekonomi, dan politik, akan berarti lain lagi bagi orang islam lainnya. Sejalan dengan itu,islam akan dipahami dan digunakan secara berbeda.


 POLA PEMIKIRAN KEISLAMAN DI INDONESIA



Proses penetrasi nilai-nilai islam dalam kehidupan masyarakat Nusantara terjadi pada masa-masa awal kedatangan islam secara penetration pacifique sampai dengan munculnya gerakan pembaruan menimbulkan pola tingkah laku dalam bidang sosial politik, ekonomi.
Pada abad XVII dan XVIII merupakan salah satu masa yang paling dinamis dalam sejarah intelektual islam. Sumber dinamika islam pada abad tersebut adalah jaringan ulama, yang terutama berpusat di Mekah dan Madinah. Posisi kedua kota suci ini, khususnya dalam kaitan dengan ibadah haji, mendorong sejumlah besar ulama dan penuntut ilmu dari berbagai wilayah dunia muslim datang dan bermukim di sana.
Pada abad XVII tersebut, hubungan antara islam di Nusantara dengan Timur Tengah umumnya bersifat keagamaan dan keilmuan.
Dampak positif dari adanya jaringan keilmuan telah mendorong masyarakat islam modern di Indonesia dengan ditandai berdirinya organisasi islam seperti Serikat Dagang Islam, Serikat Islam, Muhammadiyah


PEMIKIRAN SOSIAL KEAGAMAAN



Segmentasi umat islam di Indonesia antara lain mempunyai dimensi yang bersifat kultural. Artinya keragaman kelompok umat islam mempunyai latar belakang budaya keagamaan. Yang relatif berbeda, sejalan dengan perbedaan latar belakang budaya kemasyarakatan mereka. Corak pemikiran islam di indonesia mencerminkan hasil hubungan yang dialektis dengan persoalan islam dan modernisasi, perjumpaan islam dengan kebangsaan dan kekuatan negara, dan perjumpaan islam dengan kekuatan budaya lokal setempat. Realitas umat islam di Indonesia menunjukan fenomena kemajemukan, baik dalam  paham keagamaan maupun dalam sosial keagamaan. Kemajemukan ini sejalan dengan kemajemukan masyarakat Indonesia itu sendiri, atas dasar bangsa, bahasa, agama.
1.ISLAM RASIONAL 
Para pemikir islam rasional antara lain seperti Harun Nasution memepunyai pikiran-pikiran keagamaan yang terfokus pada kenyataan bahwa Al-Qur’an tidak memberikan panduan-panduan kehidupan secara detail. Karenanya ijtihad menjadi sangatlah penting maknanya sebagai mekanisme untuk melakukan interpretasi atau reaktualisasi atas doktrin ajaran islam. Dalam hal ini, kaum muslim perlu mempertimbangkan pentingnya aspek-aspek local, kontekstual dan temporal dalam pengembangan pemikirannya. Dengan demikian kehidupan keagamaan komunitas muslim di Indonesia tidak akan tercerabut dari nilai-nilai budaya mereka sendiri.
2. ISLAM SAINTIFIK 
Dalam islam saintifikl terdapat dua disiplin yang cukup fundamental yang mewarnai corak baru intelektualisme islam. Hal yang dimaksud adalah disiplin perbandingan agama dan sosiologi agama. Namun disiplin yang terakhir ini tidak berkembang dengan baik dan disiplin perbandingan agama tampak dominan sekali sebagai perangkat intelektual di Yogyakarta yang memberikan perhatian terutama pada studi tentang agama-agama dan studi tentang kebatinan.   Tetapi sebenarnya ada lagi disiplin yaitu historiografi. Salah satu kata kunci untuk memahami basis keislaman Ali ialah apa yang sering ia sebut sebagai agree in disagreement, yaitu setuju dalam perbedaan. Inilah filsafat yang dikembangkannya sejak menokohi limited group diskusi island di Yogyakarta.
3. ISLAM KRITIS 
Islam sering diguncang oleh isu pembaruan atau jika ada kekuatan di luar islam yang mengancam, oleh sebab itu tidak heran jika reaksinya selalu muncul di sepanjang munculnya pembaruan islam. Reaksi pihak-pihak dari luar islam yang dianggap coba mengancam kepentingan islam dalam seluruh perhatian dan pemikiran Rasjiditerpusat untuk menghadapi segala persoalan yang dihadapi oleh umat islam pada umumny, dan khususnya di Indonesia. Dia memahami bahwa akibat dari penjajahan yang terlalu lama, umat islam mengalami penderitaan lahir batin, mengalami kemiskinan ekonomi, kemiskinan agama, kerohanian, moral, dan kebodohan. Umat islam dirasakan terancam secara krusial bahkan oleh campur aduk tradisi dan kepercayaan-kepercayaan yang srba khayal.



4. ISLAM DESAKRALISASI
 
Atas dasar penilaian sebagian tokoh-tokoh muslim terhadap situasi stagnam Islam di Indonesia, mereka menyerukan perlunya penyegaran pemahaman terhadap islam. Dalam konteks alam pemikiran islam Indonesia, agenda semacam ini memang bukan sama sekali baru. Situasi stagnan ini dapat diakhiri hanya kalau umat Islam bersedia menempuh jalan pembaruan. Untuk menempuh jalan ini umat Islam antara lain harus membebaskan dirinya dari kecenderungan untuk menstrasendenkan nilai-nilai yang bersifat profan, berfikir kreatif, dan bersikap terbuka terhadap ide-ide progresif. Kalau diamati dengan jernih pandangan-pandangan madjid ini berasa dari pemahamannya atas dari dua prinsip penting dalam Islam, yaitu : konsep tauhid dan pandangan bahwa manusia itu khalifah Allah dimuka bumi.
5. ISLAM PRIBUMISASI 
Islam pribumisasi ini merupakan cara memasyarakatkan islam keseluruh orang.
Dalam mengajak komunitas islam untuk tidak memperlakukan islam sebagai sebuah ideologi alternative dalam pandangannya sebagai komponen utama dalam struktur masyarakat Indonesia , Islam hendaknya tidak diletakkan secara berhadap hadapan dengan komponen-komponen  lain. Sebaliknya Islam harus diposisikan sebagai komponen komplementer dalam pembentukan struktur sosial, budaya, dan politik Indonesia. Ini mengingat bahwa karakter komunitas sosial manusia, budaya, berpolotik nusantara yang heterogen, dan usaha untuk menempatkan Islam sebagai pemberi warna tunggal hanya akan menghantarkan Islam sebagai faktor divisive.



6. ISLAM PERADABAN
 
Dengan ajarpan tauhid yang menyatakan bahwa Alloh SWT yang berhak disembah, maka Muhammad SAW telah menciptakan mekanisme transendensi manusia untuk bisa mempertanyakan apa  diluar Alloh SWt, termasuk struktur sosialnya yang menindas. Penindasan itulah yang membuat manusia mati martabat dan harkat dirinya, bukan karena kehendak Alloh SWT, tetapi karena jeratan strukturnya sendiri.
7. ISLAM REAKTUALISASI

Para pemikir muslim harus berani melakukan proses reaktualisasi ajaran islam agar artikulasi keislaman kita lebih sesuai dengan situasi dan kondisi Bangsa Indonesia. Dalam alur pikiran yang serupa , Munawir Sjadzali mengemukakan perlunya pemikir muslim melakukan ijtihad secara jujur, agar islam terasa responsive terhadap keperluan-keperluan riil masyarakat. Perhatian Sjadzali banyak difokuskan pada masalah bagaimana memahami syariat islam dalam konteks keadilan yang empiris. Dengan dipengaruhi antara lain oleh kebenaran dan kejujuran Umar Bin Khattab dalam melakukan ijtihad, Sjadzali mengajukan sebuah proposisi bahwa harus ada sebuah ukuran-ukuran yang tepat untuk memahami ajaran islam. Salah satu topic yang sering dikemukakan oleh Sjadzali adalah prinsip pewarisan dalam islam. 
8. ISLAM TRANSFORMATIF
 
Obsesi islam transpormatif adalah memberi kritik terhadap islam rasional dan islam peradaban. Dari kritik tersebut, merekapun berusaha membangun suatu bentuk islam alternative. Titik tolak mereka sangat jelas yaitu ingin menganalisis penyebab keterbelakangan dan kemunduran umat islam Indonesia, dari sudut pandang struktual. Selama ini islam rasional dan islam peradaban mencoba memecahkan problem keterbelakangan dan kemunduran umat islam dengan menunjuk bahwa ada yang salah dalam cara beragama umat. Dalam bahasa retorik, keterbelakangan diebabkan oleh sikap fatalistis, predeterminismin dan penyerahan kepada nasib sebagaimana pada islam rasional. Kritik islam transformatif adalah bahwa keteribelakangan bukan disebabkan oleh faktor-faktor teologis,budaya atau mentalis.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers

Calendar