Minggu, 08 Mei 2011

TANTANGAN KEBERAGAMAN ERA KONTEMPORER : TANTANGAN RADIKALISME AGAMA

Share it Please


A.   LATAR BELAKANG


Dengan kondisi politik maupun ekonomi yang tidak pasti, agama sering gagal memenuhi keinginan para  pemeluknya  untuk memberikan kedamaian dan selalu mengutuk bentuk – bentuk kekerasan, salah satunya yaitu radikalisme. Banyak pengamat yang menyatakan bahwa munculnya sikap radikal yang diekspresikan dengan kebencian terhadap Barat timbul akibat konflik berkepanjangan antara Palestina dengan negara tanpa tanah air yaitu Israel. Hal ini menimbulkan “dendam-dendam politik” yang lebih luas, yaitu: Arab dengan Israel dan negara-negara pendukungnya. Konflik Arab dengan Israel ini meluas menjadi konflik Islam dengan Yahudi. Munculnya gerakan keagamaan yang bersifat radikal merupakan fenomena penting yang turut mewarnai citra Islam kontemporer. Masyarakat dunia belum bisa melupakan peristiwa Revolusi Islam Iran pada 1979 yang berhasil menampilkan kalangan mullah ke atas panggung kekuasaan. Dampak dari peristiwa itu sangat mendalam dan banyak, tidak pernah seluruh negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim tidak selalu  memiliki kaitan antara satu dan lainnya. Radikalisme Islam sebagai fenomena historis-sosiologis  merupakan masalah yang banyak dibicarakan dalam wacana politik dan peradaban global akibat kekuatan media yang memiliki potensi besar dalam menciptakan persepsi masyarakat dunia. untuk menyebut gerakan Islam radikal, dari sebutan kelompok garis keras, ekstrimis, fundamentalisme sampai terrorisme.


PEMBAHASAN

A.               PENGERTIAN RADIKALISME
Ada beberapa pengertian tentang radikalisme, yaitu pertama radikalisme, adalah satu paham aliran yang menghendaki perubahan secara drastis (Kamus Besar Bahasa Indonesia Ikhtiar Baru :l995) dalam penjelasan lebih lanjut, aliran paham politik dimaksud menghendaki pengikutnya perubahan yang ekstrem sesuai dengan pengejawantahan paham mereka anut. Sedangkan  radikalisme Islam dan Indonesai, yang dimaksud adalah paham aliran gerakan Islam di Indoenseia yang menghendaki perubahan drastis sesuai dengan ide dasar mereka dan kecenderungan tindakan itu melalui kekerasan. Adapun pengertian lain dari radikalisme adalah gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka. Sementara Islam merupakan agama kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan mencari perdamaian.   Islam tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan serta paham politik. Tetapi memang tidak bisa dibantah bahwa dalam perjalanan sejarahnya terdapat kelompok-kelompok Islam tertentu yang menggunakan jalan kekerasan untuk mencapai tujuan politis atau mempertahankan paham keagamaannya secara kaku yang dalam bahasa peradaban global sering disebut kaum radikalisme Islam.

B.   FAKTOR – FAKTOR MUNCULNYA RADIKALISME

Gerakan radikalisme sesungguhnya bukan sebuah gerakan yang muncul begitu saja tetapi memiliki latar belakang yang sekaligus menjadi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme. Diantara faktor-faktor itu adalah

Pertama, faktor-faktor sosial-politik. Gejala kekerasan “agama” lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial-politik daripada gejala keagamaan. Gerakan yang secara salah kaparah oleh Barat disebut sebagai radikalisme Islam itu lebih tepat dilihat akar permasalahannya dari sudut konteks sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia yang ada di masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra 11 bahwa memburuknya posisi negara-negara Muslim dalam konflik utara-selatan menjadi penopong utama munculnya radikalisme. Secara historis kita dapat melihat bahwa konflik-konflik yang ditimbulkan oleh kalangan radikal dengan seperangkat alat kekerasannya dalam menentang dan membenturkan diri dengan kelompok lain ternyata lebih berakar pada masalah sosial-politik. Dalam hal ini kaum radikalisme memandang fakta histories bahwa umat Islam tidak diuntungkan oleh peradaban global sehingga menimbulkan perlawanan terhadap kekuatan yang mendominasi. Dengan membawa bahasa dan simbol serta slogan-slogan agama kaum radikalis mencoba menyentuh emosi keagamaan dan menggalang kekuatan untuk mencapai tujuan “mulia” dari politiknya. Tentu saja hal yang demikian ini tidak selamanya dapat disebut memanipulasi agama karena sebagian perilaku mereka berakar pada interpretasi agama dalam melihat fenomena historis.
Kedua, faktor emosi keagamaan. Harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan agama (wahyu suci yang absolut)

Ketiga, faktor kultural ini juga memiliki andil yang cukup besar yang melatarbelakangi munculnya radikalisme. Hal ini wajar karena memang secara kultural, sebagaimana diungkapkan Musa Asy’ari 12 bahwa di dalam masyarakat selalu diketemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai. Sedangkan yang dimaksud faktor kultural di sini adalah sebagai anti tesa terhadap budaya sekularisme. Budaya Barat merupakan sumber sekularisme yang dianggap sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bumi. Sedangkan fakta sejarah memperlihatkan adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknya atas negeri-negeri dan budaya Muslim. Peradaban barat sekarang ini merupakan ekspresi dominan dan universal umat manusia. Barat telah dengan sengaja melakukan proses marjinalisasi selurh sendi-sendi kehidupan Muslim sehingga umat Islam menjadi terbelakang dan tertindas. Barat, dengan sekularismenya, sudah dianggap sebagai bangsa yang mengotori budaya-budaya bangsa Timur dan Islam, juga dianggap bahaya terbesar dari keberlangsungan moralitas Islam.

Keempat, faktor ideologis anti westernisme. Westernisme merupakan suatu pemikiran yang membahayakan Muslim dalam mengaplikasikan syari’at Islam. Sehingga simbol-simbol Barat harus dihancurkan demi penegakan syarri’at Islam. Walaupun motivasi dan keagamaan tetapi jalan kekerasan yang ditempuh kaum radikalisme justru menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam memposisikan diri sebagai pesaing dalam budaya dan peradaban.

Kelima, faktor kebijakan pemerintah. Ketidakmampuan pemerintahn di negara-negara Islam untuk bertindak memperbaiki.

C.   AKIBAT DARI RADIKALISME


Pertama: Karena adanya radikalisme atau kekerasan akan muncul perselisihan atau pertentangan antara satu dengan yang lainnya. Karena n kekerasan.

Kedua: Situasi dan kondisi akan terasa tidak aman, karena selalu terjadi kekerasan dalam kehidupan sehari – hari.

Ketiga: Hubungan antara sesame umat akan terasa tidak harmonis dan tidak nyaman.


D. SOLUSI



Pertama, faktor internal yaitu berupa emosi keagamaan yang berdasarkan interpretasi ajaran agama. Dalam hal ini, jika gerakan radikalisme berbasis pada interpretasi ajaran agama maka jalan yang perlu ditempuh untuk meminimalisir gerakan radikalisme agama (khususnya Islam) harus mulai dengan rekontruksi terhadap pemahaman agama, dari yang bersifar simbolik-normatif menuju pemahaman yang etik, substansial dan universal. Namun hal ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan karena memerlukan upaya yang menyeluruh dan kompleks. Mengubah pola pikir dan sikap mental adalah perbuatan yang amat sulit dilakukan terlebih-lebih jika pola
pikir sebelumnya sudah ditopang dengan akidah (keyakinan) keagamaan yang kuat dan mengakar.

Kedua, faktor eksternal. Pengembalian hak-hak politik umat Islam yang selama ini di”penjara” oleh Barat, seperti dihentikannya perang media atas Islam yang menjadikan umat Islam terpojok oleh propaganda media Barat, pengembalian wilayah teritori milik komunitas umat Islam yang “dijajah” Barat atau sekutu-sekutunya, dihentikannya penjajahan dan dominasi ekonomi, kultur maupun Islam dan Wacana … [Syamsul Bakri] 9 militer yang dilakukan oleh barat atas negeri-negeri Muslim yang dianggap militan. Pengembalian hak-hak Muslim merupakan syarat utama dalam meminimalisisr gerakan radikalisme. Di samping itu, faktor kebijakan pemerintah negara-negara Muslim juga memiliki peran yang cukup penting dalam memperkecil gerakan radikalisme. Bahwa gerakan radikalisme yang dilakukan oleh sekelompok Muslim merupakan simbol dari ketidakpercayaan terhadap kekuatan dan kemauan para pemegang pemerintahan negeri – negeri Muslim, serta sebagai simbol ketidakberdayaan mereka dalam diplomasi internasional (karena sudah terpinggirkan, termajinalkan, terjajah). Penanganan yang kaku oleh pemerintah terhadap gerakan radikalisme bukan saja tidak menyelesaikan masalah tetapi juga menyebabkan gerakan radikalisme akan terus berlangsung di samping tentunya menimbulkan permasalahan yang dapat memicu radikalisme baru. Ketika penguasa tidak memahami fenomena masyarakatnya, ketika kecurigaan dan kekerasan dijadikan alat untuk memberantas radikalisme maka radiklaisme tidak akan hilang dari fenomena historis. Radikalisme tidak dapat dilawan dengan kekerasan. Radikalisme yang dilakukan oleh sekelompok Muslim memiliki ide (ideologi politik dan
ideologi keagamaan), di samping ditopang oleh emosi dan solidaritas keagamaan yang sangat kuat. Karenany maka diperlukan upaya persuasif, kedemawaan dan rasa persaudaraan dari para penguasa negeri-negeri Muslim agar gerakan yang lebih radikal lagi bisa dicegah
PENUTUP

Praktek kekerasan (radikalisme) yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam tidak dapat diterima oleh Islam sehingga propaganda media Barat yang memojokkan Islam dan umat Islam secara umum tidak dapat diterima. Islam tidak mengajarkan radikalisme, tetapi perilaku kekerasan sekelompok umat Islam atas simbol-simbol Barat memang merupakan realitas historis-sosiologis yang dimanfaatkan media pers barat. Radikalisme muncul dari kebanggan (identitas ke-Islaman) yanga terluka (oleh Barat), keluhan (kaum Muslim tertindas yang tidak diperhatikan) dan keputusasaan karena Ketidakberdayaan. Radikalisme sangat dibenci oleh agama islam, karena islam tidak pernah mengajarkan kekerasan,yang diajarkan hanya kedamaiaan umatnya. Radikalisme harus diminimalisasikan secepatnya, karena jika terus berkembang akan menghancurkan umat beragama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers

Calendar