Kamis, 10 November 2011

AUDIT SIKLUS PRODUKSI

Share it Please



            Siklus produksi (production cycle) meliputi perencanaan serta pengendalian produksi dari jenis-jenis dan kuantitas barang yang akan diproduksi, tingkat persediaan, serta transaksi dan peristiwa yang berkaitan dengan proses pabrikasi. Transaksi yang terjadi dalam siklus ini dimulai pada saat bahan baku diminta untuk produksi, dan berakhir ketika barang yang diproduksi ditranfer kebarang jadi.        

Tujuan Audit
            Dua kelompok tujuan audit adalah : (1) tujuan audit atas kelompok transaksi yang berkaitan dengan transaksi pabrikasi dan (2) tujuan audit atas saldo akun yang berkaitan dengan saldo persediaan serta harga pokok penjualan.
Kategori asersi
Tujuan audit atas kelompok transaksi
Tujuan audit atas saldo akun
Keberadaan atau keterjadian






Kelengkapan







Hak dan Kewajiban


Penilaiaan atau alokasi






Penyajian atau pengungkapan
Transaksi pabrikasi yang dicatat menyajikan bahan, tenaga kerja, dan overhead yang ditransfer ke produksi serta pemindahan produksi yang sudah selesai ke barang jadi selama periode berjalan

Semua transaksi pabrikasi yang terjadi selama periode berjalan sudah dicatat





Entitas memegang hak atas persediaan yang berasal dari transaksi pabrikasi yang dicatat

Transaksi pabrikasi telah dijurna, dan diposting dengan benar






Rincian transaksi pabrikasi mendukung penyajian dalan laporan keuangan termasuk klasifikasi dan pengungkapan
Persediaan yang tercetak dalam neraca secara fisik ada.
Harga pokok penjualan menunjukkan harga pokok barang yang dijual selama periode berjalan.


Persediaan mencakup semua bahan, produk dan perlengkapan yang ada di tangan pada tanggal nerca.
Harga pokok penjualan mencakup semua transaksi penjualan selama periode berjalan.

entitas pelapor memegang hak milik atas persediaan pada tanggal neraca.

Persediaan telah dinyatakan dengan tepat pada harga yang terendah
Harga pokok penjualan didasarkan pada penerapan metode arus biaya yang berlaku secara konsisten.  

Persediaan dan harga pokok penjualan telah diidentifikasi secara tepat dalam laporan keuangan
Pengungkapan yang berhubungan dengan dasar penilaian dan pengagunan atau penjaminan persediaan sudah memadai.

Menggunakan pemahaman tentang bisnis dan industri untuk mengembangkan strategi audit
            Bagi banyak perusahaan persediaan pabrikasi merupakan proses inti dan kemampuan entitas itu untuk menghasilkan laba tergantung pada seberapa baik proses pabrikasi ini dikelola. Setiap industri memiliki sifat yang unik, sehingga sangat penting untuk memahami keadaan klien dan menemukan bukti yang cukup guna mendukung pendapat mengenai kewajaran penyajian laporan keuangan.

Materialitas, Risiko inheren, dan Prosedur Analitis

Materialitas
            Pertimabangan utama dalam mengevaluasi alokasi materialitas adalah penentuan besarnya salah saji yang akan mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan. Pertimbangan skunder adalah hubungannya dengan biaya untuk mendeteksi kesalahan.
Risiko Inheren
            Untuk pabrik, pedagang grosir, atau pedagang eceran persediaan dapat dinilai sebesar atau mendekati maksimum karena beberapa alasan, antara lain :
  • Volume transaksi pembelian, pabrikasi dan penjualanyang mempengaruhi akun-akun ini biasanya tinggi sehingga meningkatkan peluang terjadinya salah saji.
  • Sangat beragamnya jenis persediaan mungkin saja menimbulkan masalah khusus dalam menentukan kualitas dan nilai pasarnya.
  • Persediaan mungkin dijual dengan perjanjianretur atau pembelian kembali.

Prosedur Analitis
            Prosedur analitis adalah prosedur yang murah dari segi biaya dan dapat membuat auditor waspada terhadap potensi salah saji. Jika persediaan bersifat material bagi audit laporan keuangan, maka auditor tidak boleh menganggap bahwa prosedur analitis merupakan pengganti untuk pengujian rincian lainnya, tetapi prosedur ini bisa sangat efektif dalam memusatkan perhatian audit dimana salah saji mungkin terjadi.

Pertimbangan komponen pengendalian internal
            Dalam lingkungan pengendalian, struktur organisasi harus mencakup pejabat yang bertanggung jawab atas produksi secara keseluruhan. Dengan menduduki jabatan seperti wakil direktur operasi, pabrikasi, atau produksi orang ini biasanya mempunyai wewenang atas departemen perencanaan serta pengendalian produksi.

Aktivitas Pengendalian-transaksi pabrikasi
            Komponen aktivitas pengendalian dalam pengendalian internal terdiri dari 4 kategori aktivitas : (1) pemisahan tugas, pengendalian umum, dan pengendalian aplikasi (2)pengendalian pemrosesan informasi yang mencakup otorisasi yang tepat (3) pengendalian fisik (4) penelaahan kinerja dan akuntanbilitas.

Dokumen dan catatan yang umum
             Berikut ini disajikian beberapa, catatan dan file komputer yang lazim digunakan dalam memproses transaksi pabrikasi antara lain Perintah produksi, laporan kebutuhan bahan, slip pengeluaran bahan, laporan aktivitas produksi harian, laporan produksi yang sudah selesai, buku besar pembantu, file induk biaya standar, file induk persediaan bahan baku, file induk persediaan barang dalam proses, file induk persediaan barang jadi.

Fungsi-fungsi dan pengendalian terkait
Fungsi-fungsi pabrikasi :
1.      Memulai produksi :
§  Merencanakan dan mengendalikan produksi
§  Mengeluarkan bahan baku
2.      Memindah barang :
§  Memproses barang dalam produksi
§  Memindahkan pekerjaan yang sudah selesai ke barang jadi
§  Melindungi persediaan
3.      Mencatat transaksi produksi dan persediaan :
§  Menentukan dan mencatat biaya-biaya pabrikasi
§  Menjaga kebenaran saldo-saldo persediaan
            Pelaksanaan fungsi-fungsi ini melibatkan beberapa departemen. Pengendalian yang berkaitan dengan produksi dan pemindahan barang adalah relevan dalam menilai risisko pengendalian untuk asersi kejadian dan kelengkapan. Pengendalian yang berhubungan dengan pencatatan transaksi persediaan penting dalam menilai risiko pengendalian untuk asersi hak dan kewajiban, penilaian serta penyajian dan pengungkapan untuk transaksi dan persediaan pabrikasi.

            Memulai produksi
1.      Merencanakan dan mengendalikan produksi
Otorisasi produksi dibuat dalam departemen perencanaan dan pengendaIian produksi berdasarkan pesanan yang diterima dari pelanggan atau analisis peramalan penjualan serta kebutuhan persedian. Pendokumentasian, otorisasi dilakukan dengan menerbitkan perintah produksi benomor urut.
2.      Mengeluarkan bahan baku
Gudang akan menyerahkan bahan baku ke bagian produksi setelah menerima slip pengeluaran bahan (permintaan) yang dibuat oleh departemen produksi. Slip ini menunjukkan kuantitas dan jenis bahan yang dirninta serta nomor perintah yang harus dibebani. Setiap slip harus ditandatangi oleh pekerja produksi yang berwenang.

Perpindahan  Barang
1.      Memproses Barang Dalam Proses
Tenaga kerja yang digunakan untuk mengerjakan perintah produksi tertentu dicatat dalam tiket waktu, Fungsi pencatatan waktu ini juga bisa dilakukan dengan mengharuskan karyawan memasukan tanda pengenal mereka ke dalam terminal komputer, kemudian mengetik momor perintah produksi setiap kali mereka memulai atau berhenti mengerjakan suatu pesanan,
2.      Memindahkan pekerjaan yang sudah selesai ke barang jadi
Apabila pembaatm barang sudah selesai dan sudah lulus inspeksi akhir, maka disusunlah sebuah laporan produksi yang sudah selesai. Barang tersebut kemudiaan dikirim ke gudang barang jadi. Yang menerima tanggung jawab atas barang itu menandatangani tiket perpindahan.
3.      Melindungi persediaan
Persediaan pabrikasi sangat rentan dengan pencurian dan kerusakan Penyimpanan persediaan bahan baku dan barang jadi dalam ruang terkunci dengan akses yang terbatas pada orang-orang yang diberi otorisasi mempakan hal yang terpenting dalam meIindungi aktiva ini.


Mencatat  Transaksi Pabrikan dan Persediaan
1.          Menentukan dan mencatat biaya pabrikan
Fungsi ini menyangkut hal-hal sebagai berikut:
a. Membebankan bahan langsung dan tenaga kerja langsung ke barang dalam proses
b. Mengenakan overhead pabrikasi ke barang dalam proses
c. Memindahkan biaya diantara deprtemen produksi
d, memindahkan biaya produksl yang sudah selesai ke barang jadi
2.          Mempertahankan kebenaran salda-saldo persediaan
Dalam hal mempertahankan saldo-saldo persediaan melibatkan 3 aktifitas. yaitu:
a.   Dilakukan perhitungan periodik yang independent terhadap persediaan yang ada di tangan dan membandingkan dengan kuantitas yang dicatat.
b.  Dilakukan pengecekan periodic yang independent terhadap kesesuaian antara Jumlah yang tercatat dalam file bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi.
c.   Inspeksi periodik terhadap kondisi persediaan dan penelaahan manajemen atas laporan aktivitas persediaan

Pengendalian Manajemen
Pengendalian manajemen digunakan untuk memantau setiap fungsi. Apabila manajemen ditetapkan sebagai pihak yang bertanggungjawab atas penggunaan sumber daya pada setiap tahap produksi, maka kemungkinan terjadinya kesalahan yang tidak disengaja akan diperkecil.

Memperoleh pemahaman dan menilai risiko pengendalian
Dalam memperoleh pemahaman dan mendokumentasikan tentang bagian-bagian dari komponen pengendalian internal yang relevan dengan transaksi pabrikasi, auditor menggunakan prosedur yang sama seperti transaksi lain. Prosedur ini meliputi:
  • Review atas pengalamam sebdumnya dengan klien yang bersangkutan
  • Pengajuan pertanyaan kepada manajemen serta personil produksi
  • Pemeriksaan dokumen dan catatan produksi
  • Pengamatan atas aktivitas dan kondisi produksi
Prosedur ini juga mencakup penggunaan kuesioner pengendalian internal, bagan arus, dan memorandum naratif.

Pengujian substantif atas saldo persediaan
Bagian ini berhubungan dengan pengujian substantif atas persediaan barang dagang yang dibeli dan disimpan oleh pedagang grosir serta eceran dan juga persediaan bahan baku, barang dalam proses, serta barang jadi yang dimilikj pabrikan.Dalam hal inl juga perlu dipastikan bahwa pemeriksaan audit atas saldo persediaan harus cukup efisien dan efektif dalam mendapatkan bukti kompeten yang mencukupi dan harus dipertimbangkan secara cermat penentuan tingkat resiko deteksi yang dapat diterima dan perancangan pengujian substantif yang sesuai untuk asersi-asersi persediaan.


Menentukan Risiko Deteksi Uutuk Pengujian Rincian
Spesifikasi auditor mengenai tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk pengujian rincian atas asersi-asersi persediaan akan mencerminkan suatu hubungan terbalik dengan penilaian risiko inheren, risiko pengendalian, dan risiko prosedur analitis yang relevan yang berkaitan dengan asersi-asersi itu. Sebagai contoh dalam menilai risiko pengendalian untuk asersi eksistensi keberadaan pada persediaan barang dagang, auditor akan memperhitung.kan penilaian risiko pengendaliaanya untuk asersi tersebut bagi transaksi pembelian yang memperbesar saldo persediaan, sedangkan asersi kelengkapan untuk transaksi penjualan yang memperkecil saldo persediaan.

Merancang Pengujian Substantif
Pengujian substantif yang mungkin dilakukan terhadap asersi-asersi saldo persediaan
Kategori
Substantive pengujian
Prosedur awal












Prosedur analitis






Pengujian rincian transaksi




Pengujian rincian saldo















Pengujian rincian saldo : estimasi akuntansi




Prosedur yang diwajibkan

Penyajian dan pengungkapan
1.   Memperoleh pemahaman mengenai bisnis dan industri dan menentukan:
a.   Signifikunsi harga pokok penjualan dan persediaan.
b. Penggerak ekonomi utama yang mempengaruhi harga pokok penjualan,marjin kotor dan kemungkinan keusangan persediaan.
c. Sejauh mana klien memiliki persediaan konsinyasi (masuk atau keluar).
d. Eksistensi komitmen pembelian dan konsentrasi aktivitis dengan pemasok.
2.Melakukan prosedur awal atas saldo dan catatan persediaan yang akan diuji lebih lanjut.

3.Melakukan prosedur analitis           
a.       Menelaah pengalaman dan kecenderungan industri.   
b.      memeriksa analisis perputaran persediaan.      
c. Menelaah hubungan saldo persediaan dengan aktivitas pembelian,produksi, dan penjualan terakhir
d.  Membandingkan saldo pcrsediaan dengan volume penjualan yang diantisipasi
4.memvoucing ayat jurnal dalam akun persediaan ke dokumentasi pendukungnya
5.Menelusuri data dari catatan pembelian, pabrikasi, produksi yang sudah selesai, dan penjualan ke akun persediaan.
6.Pengujian pisah batas.         

7 Mengamati penghitungan fisik persediaan yang dilakukan klien.       
    a.Memutuskan waktu dan Iuas pengujian.
b.Mengevaluasi kelayakan rencana perhitungan persediaan klien ­8.Menguji akurasi klerikal daftar persediaan.
a. Menghitung kembali total dan perkalian kuantitas dengan harga per unit.
b.Mene1usuri pengujian perhitungan dll.
9.Menguji penetapan harga persediaan.
a.Memeriksa faktur penjual yang sudah dibayar untuk persediaan yang dibeli
b.Memeriksa ketetapan tarif tenaga kerja langsung dan overhead, biaya standar serta disposisi varians yang berhubungan dengan persediaan yang diproduksi.                     
10.Mengkomfirmasi persediaan pada lokasi diluar entitas
11. Memenksa perjanjian dan kontrak konsinyansi

12. Mengevaluasi nilai realisasi bersih persediaan
a. memeriksa faktur penjualan setelah akhir tahun dan melakukan  pengujian nilai terendah antara harga pokok dan harga pasar.
b.Membandingkan persediaan dengan katalog penjualan dan laporan penjualan tahun berjalan entitas dll.


Observasi atas perhitungan persediaan fisik
             

13. Membandingkan penyajian da1am laporan dengan GAAP.
a.Mengkonfinnasi perjanjian penjaminan dan pengagunan persediaan.
b.Menelaah penyajian dan pengungkapan persediaan dalam konsep laporan  keuangan dan menentukan kesesuaianuya dengan GAAP


Prosedur Awal
Salah Satu prosedur awal yang penting adalah menyangkut usaha untuk mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan industri suatu entitas guna mcnetapkan konteks untuk mengevaluasi prosedur analitis dan pengujian rincian. jika klien adalah pabrikan, maka penting untuk memahami bauran biaya tetap dan biaya variabel yang terlibat dalam proses pabrikasi. Dan jika klien itu mcrupakan pengecer, maka penting untuk memahami sumber pasokan produk serta peran yang dimainkan klien dalam mata rantai distribusi ini.

Prosedur Analitis
Hal yang sangat penting dilakukan ketika mengembangkan ekspektasi yang akan digunakan dalam mengevaluasi data analitis bagi klien adalah penelaahan atas pengalaman dan kecenderungan industri klien. Sebagai contoh, dengan mengetahui penurunan yang tajam dalam rasio perputaran persediaan klien yang mencerminkan keadaan perusahaan tersebut, dapat membantu auditor untuk menyimpulkan bahwa penurunan itu tidak mengindikasikan kesalahan yang berhubungan dengan keberadaan data klien yang digunakan dalam menghitung rasio perputaran persediaan., melainkan mengindikasikan masalah penilaian yang berkaitan dengan penurunan permintaan yang mungkin akan diikuti oleh menurunnya harga pasar.


Pengujian Rincian Transaksi
Pengujian ini me1ibatkan prosedur pemeriksaan dokumen pendukung dan penelusuran uutuk mendapatkan bukti tentang pemrosesan setiap transaksi yang mempengaruhi saldo persediaan.
  • PENGUJIAN AYAT JURNAL ATAS AKUN PERSEDIAAN
Sebagian atau semua jenis pengujian ini dapat dilakukan sebagai bagian dari pengujian bertujuan ganda selama melaksanakan pekerjaan interim.
Contoh vouching ayat jumal yang tercatat dalam akun persediaan mencakup pemeriksaan dokumen pendukung.
  1. Ayat jumal debet dalam persediaan barang dagang atan bahan baku ke faktur penjual, laporan penerimaan, dan pesanan pembelian.
  2. Ayat jumal debet dalam persediaan barang dalam proses atau barangjadi ke catatan biaya pabrikasi dan laporan produksi.
  3. Ayat jnrnal kredit pada persediaan barang dagang dan barang jadi ke dokumen dan catatan penjualan.
  4. Ayat jumal kredit pada persediaan bahan baku dan barang dalam proses ke catatan biaya pabrikasi dan laporan produksi.
Pcngujian rincian saldo
MENGAMATI PERHITUNGAN TJERSEDIAAN FlSIK KLIEN
Prosedur ini diwajibkan apabila persediaan merupakan ha1 yang material bagi laporan keuangan sebuah perusahaan.
SAS 1 (AU 331.09),piutang dan persediaan,mcnyatakan bahwa dari pengujian substantive ini auditor akan memperoleh pengetahuan langsung mengenai efektifitas perhitungan persediaan klien serta tingkat keandalan yang dapat diberikan atas asersi manajemen sehubungan dengan kuantitas dan kondisi fisik persediaan.
PENETAPAN WAKTU DAN LUAS PENGUJIAN
Penetapan waktu tergantung pada system persediaan yang dianut klien dan efektifitas pengendalian internal. Dalam systcm persediaan periodic, kuantitas ditentukan melalui perhitungan fisik,dan semua perhitungan telah ditentukan pada tanggal tertentu yang mendekati tanggal neraca.
Dalam system persediaan perpektual dengan pengendalian internal yang efekiif,perhitungan fisik dapat dilakukan dan dibandingkan dengan catatan persediaan pada tanggal interim.Dalam kasus ini prosedur ini dapat dilakukan selama atau setelah akhir periode yang diaudit.


RENCANA PERHITUNGAN PERSEDIAAN
Perhitungan persediaan fisik dilakukan sesuai dengan rencana atau daftar intruksi,yang mencakup hal-hal seperti :
·         Nama karyawan yang bertanggung jawab untuk mengawasi perhitungan persediaan
·         Tanggal perhitungan
·         Lokasi-lokasi yang dihitung
·         Intruksi terinci mengenai perhitungan akan dilakukan
·         Penggunaan dan pengendalian label persediaan bernomor urut serta lembar ikhtisar
·         Ketentuan mengenai penangangan penerimaan,pengirman dan perpindahan barang
·         Pemisahan atau identitikasi barang yang bukan milik klien.

MELAKSANAKAN PENGUJIAN
·         Meneliti kecermatan para karyawan klien mengikuti rencana perhitungan persediaan.
·         Memastikan bahwa semua barang dagang telah diberi label.
·         Menentukan label persediaan bernomor urut dan lembar kompilasi telah dikendalikan dengan semestinya.
·         Melakukan pengujian perhitungan dan menelusuri kuantitas.
·         Mewaspadai wadah-wadah yang kosong yang mungkin ada.
·         Mewaspadai persediaan barang yang rusak dan usang.
·         Menilai kondisi umum persediaan.
·         Mengidentifikasi dokumen penerimaan dan pengiriman terakhir yang digunakan.
·         Mengajukan pertanyaan tentang eksistensi barang persediaan yang lambat pergerakannya.

PERSEDIAAN YANG DITENTUKAN DENGAN SAMPEL STATISTIK
Perhitungan ini harus diamati apabila dianggap perlu sesuai dengan situasinya. Selain itu auditor harus memperoleh bukti mengenai kelayakan metode yang digunakan untuk menentukan kuantitas yang diperlukan.

PENGAMATAN PERSEDIAAN AWAL
Auditor mungkin akan ditunjuk sesudah persediaan awal dihitung atau diminta untuk memberikan laporan mengenai laporan keuangan dari satu atau lebih periode sebelumnya.
Jika sebelumnya klien belum pernah diaudit, maka auditor dapat memperoleh kepuasan audit dengan menelaah ikhtisar perhitungan yang pernah dilakukan klien, menguji transaksi persediaan sebelumnya, dan menerapkan pengujian laba kotor terhadap persediaan.

DAMPAK TERHADAP LAPORAN AUDITOR
Apabila bukti yang mencukupi belum diperoleh sehubungan dengan persediaan awal atau auditor tidak bisa mengamati perhitungan persediaan akhir, maka auditor dilarang untuk mengeluarkan laporan audit satndar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers

Calendar