Selasa, 08 November 2011

Para Transmiter Pengetahuan Timur Tengah Ke Indonesia dan Dampaknya di Indonesia

Share it Please


Tabel 1: Para Transmiter Pengetahuan Timur Tengah Ke Indonesia dan Dampaknya di Indonesia

No
Abad
Nama Transmiter
Tempat Studi dan Guru-Gurunya
Pengetahuan Yang Dikuasai dan Ditransmisikan
Produk/Karya
Dampaknya di Indonesia
1
XVI
Hamzah Fansuri (w. 1590)
Nama gurunya tidak diketahui, tetapi dalam syair-syairnya Hamzah mengaku telah berkunjung ke sejumlah kota di Timur Tengah seperti Mekkah, Quds, dan Baghdad
Tasawuf wujûdiyah dengan lima tahap emanasi dari Ibn Arabi
Asrâr al-Arifin dan Syarab al-Asyiqîn
Tasawuf wujudiyah menjadi tasawuf populer di kesultanan Aceh pada era Sultan Iskandar Muda.
2
XVI
Syamsuddin al-Sumatrani (1575-1630)
Tidak diketahui apakah Syamsuddin pernah pergi ke Timur Tengah atau tidak
Tasawuf wujudiyah dengan tujuh tahap emanasi dari Burhanpuri (martabat tujuh)
(1) Jauhar al-Haqâiq, ditulis dalam bahasa Arab, yang merujuk pada pemikiran Ibn al-'Arabi, penyair Ibn al-Farid dan struktur emanasi Burhanpuri; (2) Mir'at al-Mu'minin yang juga berisi uraian Syamsuddin tentang tujuh tahap emanasi; (3) Nûr al-Daqâiq yang merupakan penjelasan lebih rinci tentang tujuh tahap emanasi Burhanpuri, bahkan lebih bisa difahami daripada kitab Tuhfah
Tasawuf wujudiyah menjadi tasawuf populer di kesultanan Aceh pada era Sultan Iskandar Muda. Posisinya sebagai Syeikh al-Islam pada zaman Sultan Iskandar Muda mempercpat peyebaran ajaran tasawufnya.
3
XVII
Nuruddin al-Raniri (w. 1658)
Belajar ilmu keislaman dan bahasa Melayu di India dengan sejumlah ulama terkenal di lingkungan keluarganya sendiri. Pernah belajar ke Mekkah tetapi guru-gurunya tidak diketahui secara pasti.
Tasawuf, fiqh, teologi, sejarah, bahasa dan lain-lain. Ajaran tasawufnya mengkoreksi faham wujudiyah warisan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani
Memperkenalkan tarekat Idrusiyah.
 (1) Bustân al-Salâtîn, Buku ini juga dapat dianggap sebagai buku sejarah, terdiri  dari tujuh buku. (2) Shirât al-Mustaqîm, berisi penekanan dia terhadap syari'at atau fiqh. (3) Hujjat al-Shiddiq li Daf' al-Zindîq. Buku ini dimaksudkan untuk menjelaskan argumentasinya dalam menentang tasawuf yang bercorak panteisme. (4) Jawâhir al-'Ulûm fî Kasyf  al-Ma'lûm,. (5) Nubuwah fi Da'wa al-Dhil ma'a Sahibihi yang ditulis dalam bahasa Arab, (6) Hall al-Dhil.  (7) Lama'an bi Takfîr Man Qâla bi Khalq al-Qur'an, yang di dalamnya al-Raniri menentang doktrin penciptaan al-Qur'an. (8) Tibyân fi Ma'rifat al-Adyan, yang kebanyakan merujuk pada Kitab al-Tamhîd fi Bayân al-Tauhîd karya Abu Syakur al-Salimi.
Posisinya sebagai Syeikh al-Islam selama tujuh tahun di masa Sultan Iskandar Tsani memungkinkan ajaran tasawufnya berkembang. Orientasi terhadap syariat yang cukup kuat dalam ajaran tasawufnya menyebabkan dia harus "bersinggungan" dengan pengikut Hamzah dan Syamsuddin.
4
XVII
Abd al-Rauf al-Singkili (1615-1693)
Belajar di Mekkah dan Madinah dengan sejumlah guru seperti al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani
Memperkenalkan tarekat Syattariyah ke Indonesia. Dia juga menguasi sejumlah ilmu keislaman seperti fiqh, tauhid dan tafsir.
Karya-karya Abd al-Rauf meliputi semua bidang keilmuan Islam, antara lain (1) Mir'at al-Thullab (fiqh), terjemahan Fathul Wahhab karya Zakariya al-Anshari (w 926) , (2) Risalat Adab Murid akan Syeikh, berisi kewajiban guru-murid. (3) Komentar atas kitab Arba'in Nawawi di bidang hadits. (4) Umdat al-Muhtâjîn (tasawuf). (5) Lubb al-Kasyf wa al-Bayân limâ Yarâhu al-Muhtadlar bi al-'Iyân, berisi penjelasan tentang pengalaman kematian. (6) Tarjumân al-Mustafîd (tafsir).
Meneruskan upaya al-Raniri untuk menekankan pentingnya syari'at dalam tasawuf.
Tarekat Syattariyah berkembang di Indonesia. Buku tafsirnya telah dipelajari oleh umat Islam selama periode-periode berikutnya.
5
XVII
Yusuf al-Makassari (1627-1699)
Belajar di Mekkah dan Madinah dengan sejumlah ulama seperti Ibrahim al-Kurani dan lain-lain.
Memperkenalkan tarekat Khalwatiyah ke Indonesia. Dia juga menguasai hampir semua cabang keilmuan Islam
(1) Safinat al-Najât,(2) Zubadat al-Asrâr, yang dikaji oleh Nabilah Lubis dalam disertasinya. (3) Qurrat al-'Ain, (4) Mathâlib al-Sâlikîn, (5)  Muqaddimat al-Fawâid allatî Mâ Lâ budda min al-'Aqâid, dan lain-lain.

Tarekat yang dibawanya dikenal luas baik di Banten maupun di Makassar
6
XVIII
Abd al-Shamad al-Palimbani (1704-1789)
Belajar di Mekkah dan Madinah dengan sejumlah ulama seperti Muhammad al-Sammani (w. 1776).
Menguasai berbagai cabang keilmuan Islam, terutama tasawuf ortodoksi. Dia lah yang memperkenalkan tarekat Sammaniyah ke Indonesia. 
(1) Sair al-Sâlikîn ilâ 'Ibâdat Rabb al-'Alâmîn yang merupakan terjemahan dari Ihya Ulûm al-Dîn karya al-Gahazali. (2) Hidayat al-Sâlikin fi Sulûk Maslak al-Muttaqîn terjemahan Bidayah al-Hidayah (3) Nasihat al-Muslimîn yang berisi seruan jihad terhadap orang kafir.[1]
Tarekat Sammaniyah dikenal di Indonesia.
7
XVIII
Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812)
Belajar di Mekkah dan Madinah dengan sejumlah ulama seperti Syeikh Athaillah ibn Ahmad al-Mishri al-Azhari, Muhammad Sulaiman al-Kurdi, Ahmad ibn Abd al-Mun'im al-Damanhuri, Abdullah ibn al-Hijazi al-Syarqawi dan Ibrahim al-Rais al-Zamzami.
Menguasai berbagai keilmuan Islam, seperti fiqh dan tasawuf.
(1) Ushuluddin (2) Tuhfah al-Râghibîn; (3) Perukunan Melayu. di bidang fiqh (4) Sabîl al-Muhtadîn, (5) Luqtat al-Ajlân, (6) Hâsyiyah Fath al-Jawwad; di bidang tasawuf (7) Kanz al-Ma'rifat, (8) al-Qaul al-Mukhtashar
Mendirikan lembaga pendidikan sebagai sarana untuk penyebaran ilmu.
Menentang faham wujudiyah dalam tasawuf.
8
XIX
Ahmad Khathib Sambas (l. 1805)
Belajar di Mekkah dengan Syeikh Daud Ibn Muhammad al-Fatani (Mursyid Syattariyah), Syeikh Syams al-Din (mursyid Qadiriyah), Syeikh Muhammad Saleh Rais, Syeikh Umar Abd al-Rasul, Syeikh Abd al-Hafidz Ajami, Syeikh Bashir al-Jabarti, Sayyid Ahmad al-Marzuqi, Sayyid Abdullah al-Mirghani dan Syeikh Usman al-Dimyathi
Menguasai ilmu-ilmu keislaman.
Dia lah yang mendirikan tarekat Qadiriyah-Nasabandiyah yang kemudian tersebar ke Indonesia.
Tidak menulis buku, tetapi ada buku yang ditulis oleh muridnya mengenai ajaran-ajarannya, yaitu Fath al-Arifin
Lewat ketiga khalifahnya (Kyai Abdul Karim Banten, Kyai Talhah Cirebon, dan Kyai Hasbullah Madura) tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah menjadi tarekat terpopuler di Jawa.
9
XIX
Nawawi al-Bantani (1813-1897)
Belajar di Mekkah, Madinah dan Mesir. Gurunya:  Syeikh Sayyid Ahmad Nakhrawi, Sayyid Ahmad Dimyathi, Syeikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan Syeikh Muhammad Khathib Hambali. Dia menghabiskan usianya untuk mengajar di Masjidil Haram dan menulis buku.
Menguasai semua cabang keilmuan Isam seperti tafsir, hadits, tauhid, fiqh, tasawuf dan tata bahasa Arab.
Semua karyanya ditulis dalam bahasa Arab, yang pada umumnya berupa syarah tehadap kitab-kitab yang telah ada sebelumnya.
Menjadi penyambung antara khasanah intelektual Islam klasik dengan dunia pesantren. Hampir semua karyanya menjadi materi pelajaran di pesantren Jawa. Posisinya yang prestisius di kalangan ulama Haramain mengharumkan nama "Jawah".
10
XIX
Shalih bin Umar al-samarani atau Kyai Shaleh Darat (1820-1903)
Dia belajar dengan Syeikh Jamal, Syeikh Muhammad Muqri al-Mishri,  Syeikh Muhammad Sulaiman Hasbullah,  Syeikh al-Quthb al-Zaman Sayyid Muhammad Zaini Dahlan dan  Syeikh Ahmad Nahrawi al-Mishri.

Menguasai ilmu-ilmu keislaman.
Semua karyanya ditulis dalam bahasa Jawa dengan huruf pegon, seperti (1) Tafsir Faidl al-Rahman Fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik al-Dayan (2) Minhāj al-Atqiya fi Syarh Ma'rifat al-Azkiya ilā Tharīq al-Aulya, (3) Tarjamah Sabīl Abid ‘ala Jauharah al-Tauhīd, (4) Majmu'ah al-Syari'ah al-Kāfiyah li al-‘Awwam, (5) Munjiyat, methik saking ihya ulumudin al-Ghazali, (6) Matan Hikam, (7) al-Mursyid al-Wājiz fi ‘Ilm al-Qur'an al-Azīz, (8) Hadits al-Mi'rāj, 9. Lahaif al-Thahāroh wa Asrār al-Shalāh fi Kayfiyat Hālat al-Abidīn, (10) Manasik Haji, (11) Maulid Burdah, (12) Pasalatan, dan (13) Hadits al-Ghaitir lan Sarah al-Barzanji.
Menjadi trasnmitter sejumlah ilmu keislaman dan menjadi guru dari beberapa ulama Jawa berpengaruh, seperti Mahfudz al-Tirmisi, KH Hasyim Asy'ari, KH Bisri Musthafa dan lain-lain.
Bersama dengan dengan ulama-ulama Jawa lainnya, seperti Syeikh Nawawi al-Bantani, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Ahmad Khatib Sambas, Syeikh Khalil Bangkalan dan Syeikh Mahfudz al-Tirmasi mengkoordinasikan gerak langkah pengembangan ilmu kepada para mukimin Indonesia yang pada gilirannya mereka menjadi tokoh-tokoh kunci pesantren di Indonesia.
11
XIX-
XX
Ahmad Khathib al-Minangkabawi (1852-1915/6).
Belajar di mekkah dengan sejumlah ulama
Menguasai semua ilmu keislaman, dan menjadi imam Masjidil Haram dari kalangan Syafi’iyah. Sangat menentang tarekat.
(1) al-Nafahat 'alâ Syarh al-Waraqât, sebuah syarah dalam bahasa Arab atas kitab ushul fiqh karya al-Juwaini. (2) Fath al-Mubîn, sebuah kitab pendek berbahasa Melayu tentang akidah. Sebenarnya, dia menulis banyak buku (kurang lebih 46 judul), tetapi hanya dua karya di atas yang masih beredar di Indonesia
Menjadi referensi bagi gerakan reformasi keagamaan di Minangkabau. Dia lah yang menjadi guru dari sejumlah ulama Mingankabau pembaharu (kaum muda), seperti Thahir Jalaludin, Abdullah Ahmad dan lain-lain. Dia juga guru dari KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah)
12
XIX-
XX
Mahfudz al-Tirmisi (1869-1919)
Belajar di Mekkah dengan  Syeikh Muhammad al-Munsyawi, Syeikh Umar bin Barakat al-Syâmi, Syeikh Musthafa bin Muhammad bin Sulaiman al-'Afifi, Sayyid Husain bin Muhammad bin Husain al-Habsyi, Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syata'  dan lain-lain
.

Menguasai hampir semua ilmu keislaman dan memiliki mata rantai keilmuan (ijazah) untuk semua ilmu tersebut, tetapi dia lebih berkonsentrasi di bidang hadits terutama Shahih Bukhari.
Antara lain (1) Mauhibah Dzawi al-Fadhl, di bidang fiqh (2) Minhâj Dzawi al-Nazhar yang merupakan syarah atas kitab Alfiyah.

Syeikh Mahfudz nampaknya menjadi ulama Indonesia pertama yang mengajarkan Shahih Bukhari. Murid kesayangannya, Hasyim Asy'ari, membawa tradisi ini ke Indonesia, dengan menjadikan pondok pesantrennya di Tebuireng Jombang sebagai pesantren hadits terkenal. Dia juga menjadi guru dari hampir 4000 murid yang kebanyakan berasal dari Indonesia.
13
XIX-
XX
Kyai Khalil Bangkalan (1819-1925)
Di Mekkah dia belajar dengan Nawawi al-Bantani,  Syeikh Abd al-Karim dan Mahfudz al-Tirmasi dan beberapa ulama Arab.
Menguasai ilmu-ilmu keislaman
Karyanya Fiqh Nikah dan buku tata bahasa Arab.

Mewarnai keilmuan pesantren Jawa, karena menjadi guru bagi hampir semua tokoh-tokoh pesantren seperti KH Hasyim Asy'ari (w. 1947), Kyai Manaf Abdul Karim Lirboyo, Kyai Muhammad Siddiq, pendiri pesantren Jember, Kyai Munawir (w. 1942) pendiri pesantren al Munawir Krapyak Yogyakarta, Kyai Maksum (1870-1972) pendiri pesantern Lasem Rembang, Kyai Abdullah Mubarak, pendiri pesantren Suryalaya, Kyai Wahab Hasbullah (1888-1971) pendiri pesantren Tambak Beras dan NU, Kyai Bisri Syansuri (1886-1980) pendiri pesantren Denanyar Jombang, Kyai Bisri Musthafa (1915-1977) penulis produktif, dai dan pendiri pesantren Rembang, dan KH Hasan Mustafa, seorang mistikus Sunda terkenal.
14
XX
Haji Hasan Mustafa (1852-1930)
Di Mekkah dia bermukim selama empat tahun dan belajar kepada sejumlah syeikh, di antaranya adalah Syeikh Musthafa Afifi, Syeikh Abdullah Zawawi, Syeikh Abd al-Hamid al-Daghestani, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan Syeikh Muhammad
Menguasai ilmu-ilmu keislaman, terutama fiqh dan tasawuf
Antara lain (1)Kasyf al-Sarāir fi Haqīqat al-Atjih wa al-Fidr, (2)  Injāz al-Wa’d fi Ithfa’ al-Ra’d, (3) Dia juga menulis sebuah buku yang terdiri dari tiga bagian yaitu, Ishthilāh al-Ghilmān Bank Indonesia Tadāwul al-­Azmān, Ishthilāh al-Insān bi Tadāwul al-Ahyān, Ishthilāh al-Rūhān Kulla Yaum Huwa fi Sya’n. (4) Gendingan Danding Sunda Birahi Katut Wirahmana, (5) Aji Wiwitan Martabat Tujuh.
Hasan Mustafa beusaha untuk memadukan spiritualisme Sunda dengan sufisme. Dia juga sangat berjasa dalam memajukan kesusateraan Sunda.
Di samping mengikuti al-Ghazali, dia juga penganut wujudiyah, terutama teori emansi al-Burhanpuri.
15
XX
Thahir Jalaludin (1869-1957)
Di Mekkah dia belajar dengan Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Dia juga belajar di Al-Azhar Kairo untuk mendalami ilmu falak.
Menguasai ilmu-ilmu keislaman terutama ilmu falak
(1) Ithāfu al-Murid fi Ahkami Tajwīd (Johore: Matbaah al-Jamalyah, 1928), (2) Natījatul Ummi, berisi almanak, kalender Islam dan Kristen serta arah kiblat menurut madhab Syafii, (Taiping Perak, Mathbaah al-Zainiyah, 1951), (3) Tatimmatu al-Irsyad al-Khairi al-Ilmi al-Faraidz (Singapura, Mathbaah Muhammadiyah, 1952) (4) Tadzkīrat Nuttabii al-Sunnah  fi al-Raddi ala al-Qauli bi Sunnati Rakatain Qabl al-Jumu’ati (Penang: Mathbaah Haji Abdullah Haji Muhammad Nordin Al-Rawi, 1953). Sedangkan buku berbahasa Melayu, (1) Perisai Orang Beriman Pengsi Madhab (Singapura: Setia Press, 1930): (2) Pati kiraan pada menentukan waktu yang lima dan hal qiblat dengan logaritma (Singapura: Ahmadiyah Press, 1938).(4) Risalah penebas bidah-bidah di Kepala Batas (Penang: Persama Press, 1953)
Menjadi tokoh pembaharu yang menuliskan gagasannya melalui jurnal al-Imam dan buku-bukunya. Jurnalnya merangsang terbitnya jurnal-jurnal lain yang sejenis.
16
XX
Abdullah Ahmad (1878-1934)
Belajar di Mekkah kepada Syeikh Ahmad Khathib al-Minangkabawi dan sejumlah ulama Arab lainnya mulai taun 1895-1905
Menguasais sejumlah ilmu keislaman dan penentang bid’ah dan khurafat.
Mendirikan Sekolah Diniyah Adabiyah pada tahun 1909
Teresbarnya gagasan pembaruan di Indonesia terutama di Padang Sumatera Barat.
17
XX
KH Ahmad Dahlan (l. 1868)
Belajar di Mekkah kepada Syeikh Ahmad Khatib.
Menguasai sejumlah ilmu keislaman dan gagasan pembaruan
Mendirikan persyarikatan Muhammadiyah pada tanggal 18 Nopember 1912. 
Lewat Muhammadiyah, gagasan pembaruannya berkembang di Indonesia yang antara lain melalui pendirian sekolah-sekolah Muhammadiyah. 
18
XX
KH Hasyim Asy'ari (1871-1947)
Belajar di Mekkah kepada Imam Nawawi al-Bantani, Syeikh Mahfud al-Tirmisi dan sejumlah ulama Arab lainnya.
Ilmu keislaman, terutama Shahih Bukhari yang beliau dapatkan ijazahnya dari Syeikh Mahfudz 
Ziyadah Ta’liqat, Tibyan fi nahy ‘an Mu”athalat al-Ikhwan, Nur al-Mubin, Adab al-‘Alim, dan lain-lain. Bersama sejumlah kyai mendirikan Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.
Melalui pesntren Tebuireng Jombang dan NU, beliau menyebarkan pengetahuannya. Beliau juga menjadi simpul pengetahuan di kalangan ulama NU. 
19
XX
KH Abdul Halim (l. 1887)
Belajar di Mekkah pada tahun 1909-1911 kepada Syeikh Ahmad Khathib. 
Menguasai sejumlah ilmu keislaman dan gagasan pembaruan di bidang pendidikan
Mendirikan perkumpulan Hayatul Qulub pada tahun 1915 dan berubah menjadi Persatuan Umat Islam (PUI) pada tahun 1945. 
Mempelopori pembaruan pendidikan dengan sistim klasikal dan berjenjang di Jawa Barat.
20
XX
KH R. Moh. Adnan (1889-1969)
Sejak tahun 1908-1916, dia belajar di Mekkah kepada Syeikh Mahfud al-Tirmasi, Syeikh Ahmad Khathib dan sejumlah ulama Arab
Sejumlah ilmu keislaman terutama fiqh
Pengetahuannya ditransmisikan lewat lembaga pendidikan antara lain Madrasah Trabiyatu Aitam, Al-Khairiyah dan PTAIN
Sebagai hakim agama dan  Ketua PTAIN, dia telah melakukan berbagai pembaruan terutama di bidang fiqh dan pengadilan agama.
21
XX
Moenawar Chalil (1908-1961)
Belajar di Arabia pada tahun 1926-1929, dan terpengaruh oleh gelombang pembaruan Wahhabi, Afghani, Abduh dan lain-lain
Menguasai sejumlah ilmu keislaman terutama yang bercorak pembaruan
Karyanya banyak diterbitkan. Belaiu juga menjadi penulis aktif di sejumlah majalah serta menerjemahkan sejumlah buku.
Karya-karyanya menjadi bacaan bermutu hingga sekarang, ka masih banyak yang mengalami cetak ulang hingga saat ini.
22
XX
Alumni Kairo
Sejak tahun 1920 an, banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di Kairo, terutama di Universitas al-Azhar.
Mereka belajar berbagai disiplin ilmu, tetapi yang paling menonjol adalah keterpengaruhan mereka terhadap gagasan pembaruan Islam yang dilancarkan oleh sejumlah ulama Mesir.
Ada juga mahasiswa yang terpengaruh oleh gerakan Islam seperti yang diusung oleh Ikhwanul Muslimin. 
Di antara mereka ada yang mempelopori terbitnya jurnal atau majalah Islam yang bercorak pembaruan.
Di era sekarang ini, banyak di antara mereka yang terlibat dalam kegiatan pendidikan Islam dan penerjemahan buku berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia
q Menjadikan Universitas al-Azhar Kairo sebagai prototype IAIN di Indonesia.
q Banyak yang kemudian menekuni lembaga pendidikan sebagai tenaga pengajar.
q Banyak pula yang menjadi penulis ternama dan penerjemah beberapa buku berbahasa Arab terbitan Timur Tengah.




[1] Buku inilah yang memberikan inspirasi penulis puisi Aceh yang berjudul Hikayat Perang Sabil yang beredar luas selama perang Aceh melawan Belanda pada akhir abad ke-19.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers

Calendar