Jumat, 04 Mei 2012

Desain Eksperimen

Share it Please



Eksperimen lab
Jika hubungan sebab-akibat antara variabel jelas dan terikat ingin dibuktikan dengan jelas, maka semua variabel lain yang mungkin mencemari atau mengacaukan hubungan tersebut harus dikontrol dengan ketat. Dengan kata lain, kemungkinan pengaruh variabel lain pada variabel terikat harus diperhitungkan sedemikian, sehingga pengaruh kausal yang sebenarnya dari variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terkait dapat ditentukan. Perlu pula untuk memanipulasi variabel bebas sehingga tingkat pengaruh kausalnya dapat dibuktikan. Kontrol dan manipulasi paling baik dilakukan dalam situasi buatan (laboratorium), dimana pengaruh kausal dapat diuji. Jika Kontrol dan manipulasi dilakukan untuk membuktikan hubungan sebab-akibat dalam suatu situasi buatan, kita mempunyai desain eksperimen laboraturium, yang dikenal sebagai eksperimen lab.
Kontrol
Ketika merumuskan hubungan sebab-akibat antara dua variabel X dan Y, adalah mungkin bahwa suatu faktor katakanlah A juga mempengaruhi variabel terikat Y. dalam hal tersebut, adalah mustahil untuk menentukan tingkat dimana Y terjadi karena X, karena kita mengetahui seberapa besar total variasi Y disebabkan oleh kehadiran faktor A.
Ketika peneliti tidak dapat membuktikan faktor X menyebabkan lebih baik, karena faktor A merupakan faktor yang mencemari (contaminating factor). Jika pengaruh sebenarnya dari faktor X ingin dinilai, maka faktor A harus dikontrol. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tidak memasukkan A ke dalam eksperimen.
Manipulasi variabel bebas
Dalam rangka menguji pengaruh kausal dari variabel bebas terhadap variabel terkait, diperlukan manipulasi tertentu. Manipulasi secara sederhana bahwa kita membuat tingkat yang berbeda pada variabel bebas untuk menilai dampak pada variabel terkait.  Variabel bebas dan faktor tertentu dimanipulasi dengan memberikan derajat perubahan yang berbeda kepada kelompok yang berbeda. Manipulasi variable bebas juga disebut perlakuan (treatment), dan hasil perlakuan disebut pengaruh perlakuan (treatment effect).

Mengontrol variabel pengganggu yang mencemari
Memadankan kelompok
Suatu cara untuk mengontrol variabel pengganggu (nuisance) atau yang mencemari, yaitu dengan memadankan atau menjodohkan (matching) berbagai kelompok dengan memilih karakteristik yang mengacaukan dan secara sengaja menyebarkannya ke semua kelompok. Ketika faktor yang diduga mencemari disebarkan kesemua kelompok, kita dapat mengatakan variabel X sendirian menyebabkan variabel Y. tetapi mungkin dalam beberapa hal kita tidak yakin telah mengontrol semua faktor pengganggu, karena kita mungkin tidak menyadari semuanya. Taruhan yang lebih aman adalah randomisasi.
Randomisasi
Cara lain untuk mengontrol variabel pencemar . Suatu proses kumpulan faktor pencemar ditarik (yang memiliki peluang sama) dan penempatannya dalam kelompok manapun secara acak dan merata. Variabel yang dikontrol memiliki probabilitas yang sama untuk didistribusikan diantara kelompok. Proses randomisasi secara ideal akan memastikan bahwa tiap kelompok diperbandingkan dengan lainnya, dan bahwa semua variabel sebelumnya dikontrol . Dengan demikian, randomisasi akan memastikan bahwa  jika variabel tersebut benar-benar mempunyai pengaruh yang mencemari atau mengacaukan, kita telah mengontrol pengaruh kekacauan tersebut  (serta faktor lain yang tidak diketahui) dengan mendistribusikannya diantara kelompok. Dengan hal ini, kita mempunyai validitas internal (internal validity) atau keyakinan yang tinggi dalam hubungan sebab-akibat.
Manfaat randomisasi
Perbedaan antara pemadanan dan randomisasi adalah bahwa dalam pemadanan, ketika secara sengaja dan sadar disesuaikan untuk mengontrol perbedaan antar kelompok, sedangkan dalam randomisasi, kita berharap bahwa proses randimisasi akan mendistribusikan ketidaksamaan antar kelompok berdasarkan hukum distribusi normal. Dengan demikian, kita tidak perlu secara khusus merisaukan faktor pencemar apapun yang diketahui atau tidak diketahui.
Singkatnya, dibanding randomisasi, pemadanan mungkin kurang efektif, sebab kita mungkin tidak mengetahui semua faktor yang mungkin dapat mencemari hubungan sebab-akibat terhadap situasi yang dihadapi, dan karena itu gagal memadankan beberapa faktor penting diseluruh kelompok ketika mengadakan eksperimen. Tetapi, randomisasi akan menyelesaikan masalah tersebut, karena semua faktor pencemar akan disebarkan keseluruh kelompok. Selain itu, bahkan jika kita mengetahui variabel yang mengacaukan, kita mungkin tidak mampu menemukan satu kecocokan untuk semua variabel tersebut. Randomisasi memecahkan dilema tersebut dengan baik. Dengan demikian, desain eksperimen lab melibatkan control terhadap variabel pencemar melalui proses pemadanan atau randomisasi, dan manipulasi perlakuan.

Validitas internal
Validitas internal mengacu pada keyakinan kita terhadap hubungan sebab dan akibat. Dengan kata lain, hal tersebut mewakili pertanyaan, “pada tingkat apa desain penelitian memungkinkan kita untuk mengatakan bahwa variabel bebas A menyebabkan perubahan variabel terikat B?” seperti kata kidder dan judd (1986), dalam penelitian dengan validitas internal tinggi, kita relatif lebih bisa membuktikan bahwa hubungan adalah kausal, sedangkan dlaam studi dengan validitas internal rendah, kausalitas sama sekali tidak dapat disimpulkan. Dalam eksperimen lab dimana hubungan sebab-akibat dibuktikan, validitas internal bisa dikatakan tinggi.
Berikut ini bagaimana biasanya eksperimen lab dilakukan: subjek dipilih dan ditempatkan kedalam kelompok yang berbeda melalui pemadanan atau randomisasi; mereka dipindahkan ke situasi lab; merika diberi beberapa wawasan rinci dan tugas untuk diselesaikan; dan beberapa jenis kuisioner atau tes lain dilakukan sebelum dan sesudah tugas diselesaikan. Hasil studi tersebut akan menunjukkan hubungan sebab dan akibat antar variabel yang diselidiki.
Validitas eksternal atau eksperimen lab yang dapat digeneralisasi
Sampai tingkat apa hasil temuan dalam situasi lab dapat ditransfer atau digeneralisasi pada situasi actual organisasi atau lapangan? Dengan kata lain, jika kita menemukan hubungan sebab-akibat setelah kita melakukan eksperimen lab, dapatkah kita kemudian dengan yakin mengatakan bahwa hubungan sebab-akibat yang sama juga akan berlaku dalam situasi organisai?
Dalam situasi organisai jauh lebih rumit dan mengkin terdapat beberapa variabel pengganggu yang tidak dapat dikontrol. Dalam hal tersebut, kita tidak bisa yakin bahwa hubungan sebab-akibat yang ditemukan dalam eksperimen lab berlaku juga dalam situasi lapangan. Untuk menguji hubungan kausal dalam situasi organisasi, dilakukan eksperimen lab.
Eksperimen lapangan
Eksperimen lapangan adalah eksperimen yang dilakukan dalam lingkungan alami dimana pekerjaan dilakukan sehari-hari, namun kepada suatu atau lebih kelompok diberikan perlakuan tertentu. Dengan demikian, dalam eksperimen lapangan, meskipun mungkin mustahil untuk mengontrol semua variabel pengganggu karena anggota tidak dapat ditempatkan dalam kelompok secara acak, atau cocok, perlakuan tetap bisa dimanipulasi. Kelompok control bisa diatur dalam eksperimen lapangan. Hubungan sebab-akibat yang ditemukan dalam kondisi tertentu (satu sebagai kelompok control, dan kelompok lain diberikan perlakuna berbeda) akan mempunyai generalisasi yang lebih luas dari pada situasi lainnya yang mirip. Meskipun kita tidak yakin seberapa besar penyebab karena sejumlah variabel pencemar lainnya tidak dapat dikontrol.
Validitas eksternal
Validitas eksternal mengacu pada tingkat generalisasi dari hasil sebuah studi kausal pada situasi, orang, peristiwa lain, dan validitas internal merujuk pada tingkat keyakinan kita tentang pengaruh kausal (yaitu, bahwa variabel X menyebabkan variabel Y). Eksperimen lapangan mempunyai validitas eksternal yang lebih tinggi (yaitu, hasilnya lebih dapat di generalisasi pada situasi organisai lainnya), namun mempunyai validitas internal lebih rendah (yaitu, kita tidak bisa yakin mengenai sampai tingkat apa variabel X sendirian menyebabkan variabel Y). perhatikan bahwa dalam eksperimen lab berlaku sebaliknya. Validitas internal tinggi, namun validitas eksternal agak rendah. Dengan kata lain, dalam eksperimen lab kita bisa yakin bahwa variabel X menyebabkan variabel Y karena kita dapat mengontrol variabel asing lainnya yang mencemari, namun mempunyai beberapa variabel yang dikontrol dengan sangat ketat untuk membuktikan hubungan sebab-akibat sehingga tidak mengetahui sampai tingkat apa hasil studi dapat digeneralisasikan pada situasi lapangan. Dengan kata lain, karena situasi lab tidak mencerminkan situasi dunia nyata, kita tidak mengetahui sampai tingkat apa temuan lab secara valid mewakili realitas dunia luar.

Trade-off antara validitas internal dan eksternal
Terdapat trade-off antara validitas internal dan eksternal. Bila menginginkan validitas internal yang tinggi, kita sebaiknya bersedia menentukan validitas eksternal yang lebih rendah, dan sebaliknya. Untuk memastikan kedua jenis validitas, peneliti biasanya pertama-tama mencoba menguji hubungan kasual dalam suatu situasi lab atau buatan yang dikontrol secara ketat, dan setelah hubungan dibuktikan, mereka mencoba menguji hubungan kausal dalam eksperimen lapangan. Desain eksperimen lab dalam bidang manajemen sejauh ini dilakukan untuk menilai.Masalah validitas eksternal biasanya membatasi penggunaan eksperimen lab dalam bidang manajemen. Eksperimen lapangan pun jarang dilakukan karena munculnya kosekuensi yang tidak diharapkan.

Faktor-faktor yang memengaruhi validitas internal
Studi lab dengan desain terbaik pun bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dapat memengarhi validitas internal eksperimen lab. Yaitu, sejumlah faktor pencemar yang masih ada yang bisa memberikan penjelas saingan mengenai apa yang menyebabkan variabel terkait. Faktor ppencemar yang mungkin ada ini merupakan ancaman untuk validitas internal.
Ancaman utama pada validitas internal antara lain:
Pengaruh sejarah
Peristiwa atau faktor tertentu yang berdampak pada hubungan variabel bebas dan variabel terkait mungkin muncul tanpa diduga sementara eksperimen dilakukan, dan sejarah peristiwa tersebut akan mengacaukan hubungan sebab-akibat antara kedua variabel, sehingga memengaruhi validitas internal.
Pengaruh maturasi
Kesimpulan sebab-akibat juga dapat dicemari oleh pengaruh perjalanan waktu-variabel lain yang tidak bisa dikontrol. Pengaruh maturasi merupakan sebuah fungsi dari proses-biologis dan psikologis-yang berlaku dalam responden sebagai hasil dari perjalanan waktu.
Pengaruh pengujian
Sering kali, untuk menguji pengaruh sebuah perlakuan, subjek diberi apa yang disebut prates (pretest-misal sebuah kuisioner singkat untuk mengungkapkan perasaan dan sikap mereka). Yaitu, pertama-tama dilakukan pengukuran variabel terkait (prates), kemudian perlakuan diberikan, dan setelah itu tes kedua, disebut pascatest (posttest), diadakan. Perbedaan antara skor prates dan pascates kemudian dihubungkan dengan perlakuan. Tetapi, ketika responden diberi prates, hal tersebut mungkin memengaruhi respon mereka dalam pascates, yang akan berdampak merugikan terhadap validitas internal.
Pengaruh instrumentasi
Pengaruh instrumentasi adalah ancaman lain untuk validitas internal. Hal tersebut bisa muncul karena perubahan dalam instrument pengukuran antara prates dan pascates, dan bukan karena perbedaan dampak perlakuan pada akhirnya (cook & cambell, 1979a). Dengan demikian Pengaruh instrumentasi juga merupakan ancaman bagi validitas internal dalam desain eksperimen.
Pengaruh bias seleksi
Ancaman pada validitas internal juga bisa berasal dari seleksi subjek yang tidak tepat atau tidak cocok untuk kelompok eksperimen dan kontrol.
Pengaruh regresi statistik
Pengaruh regresi statistik muncul jika anggota yang terpilih untuk kelompok eksperimen mempunyai skor awal yang ekstrem (baik rendah ataupun sangat tinggi, cenderung berusaha mendekati rata-rata /regresi menuju mean) pada variabel terkait.
Pengaruh mortalitas
Faktor pengacau lain pada hubungan sebab-akibat adalah mortalitas atau pengurangan anggota dalam kelompok eksperimen , control, atau keduanya, saat eksperimen berlangsung. Bila komposisi kelompok berubah sepanjang waktu di tiap kelompok, perbandingan antar kelompok menjadi sulit, karena mereka yang keluar dari eksperimen mungkin mengacaukan hasil. Dlaam hal ini, kita tidak akan dapat mengatakan berapa banyak pengaruh yang diamati muncul dari perlakuan, dan berapa banyak yang dapat dihubungkan dengan anggota yang keluar, karena mereka yang tetap dalam eksperimen bisa bereaksi secara berbeda dari mereka yang keluar.

Validitas internal dalam studi kasus
Bila ada beberapa ancaman terhadap validitas internal, bahkan dalam eksperimen lab yang dikontrol dengan ketat, maka menjadi sangat jelas mengapa kita tidak dapat menarik kesimpulan mengenai hubungan kausal dari studi kasus yang menguraikan peristiwa yang terjadi selama rentang waktu tertentu. Kecuali studi eksperimen yang didesain dengan baik, yang secara acak menempatkan anggota pada kelompok eksperimen dan Kontrol dan berhasil memanipulasi perlakuan, menunjukkan kemungkinan hubungan kausal, adalah tidak mungkin untuk mengatakan faktor mana yang menyebabkan faktor lain.

Faktor-faktor yang memengaruhi validitas eksternal
Sementara validitas internal memunculkan pertanyaan mengenai apakah perlakuan semata atau sejumlah faktor lainnya yang menyebabkan pengaruh, validitas eksternal mengangkat isu mengenai generalisasi temuan pada situasi lain. Misalnya, sampai tingkat mana situasi eksperimen berbeda dari situasi dimana temuan digeneralisasikan langsung berhubungan dengan tingkat ancaman terhadap validitas eksternal. Seleksi subjek dan interaksinya dengan perlakuan juga akan merupakan suatu ancaman bagi validitas eksternal. Itu baru sejumlah faktor yang membatasi generalisasi. Validitas yang maksimal bisa diperoleh dengan memastikan bahwa, sedapat mungkin kondisi eksperimen lab sedekat dan secocok mungkin dengan situasi dunia nyata. Dalam hal ini, eksperimen lapangan mempunyai validitas eksternal yang lebih besar disbanding eksperimen lab. Yaitu, pengaruh perlakuan dapat digeneralisasikan pada situasi yang mirip dengan situasi dimana eksperimen lapangan dilakukan .
Tinjauan faktor-faktor yang mempengaruhi validitas eksternal dan internal
Faktor tersebut adalah pengaruh sejarah, maturasi, pengujian, instrumentasi, seleksi, regresi statistik, dan mortalitas. Tetapi ada kemungkinan untuk mengurangi bias tersebut dengan meningkatkan kecanggihan desain eksperimen. Meskipun sejumlah desain yang lebih canggih akan meningkatkan validitas internal dari eksperimen, hal tersebut juga mahal dan memakan waktu.
Ancaman terhadap validitas eksternal bisa diatasi dengan menciptakan kondisi eksperimen sekedar mungkin dengan situasi dimana hasil eksperimen akan di generalisasikan.

Jenis-jenis desain eksperimen dan validitas internal
Desain eksperimen semua
Sejumlah studi memberikan perlakuan kepada sebuah kelompok eksperimen dan mengukur pengaruhnya. Desain tersebut adalah yang terlemah dari semua desain, dan hal tersebut tidak mengukur hubungan sebab-akibat yang sebenarnya. Karena tidak ada perbandingan antar kelompok, ataupun catatan mengenai status variabel terikat sebelum perlakuan eksperimen dan bagaimana hal tersebut berubah setelah perlakuan. Dalam ketiadaan control seperti it, studi tidak memiliki nilai ilmiah dalam menentukan hubungan sebab-akibat. Desain ini disebut quasi-experimental design.
Prates dan pascates desain kelompok eksperimen
Pada suatu kelompok eksperimen (tanpa kelompok kontrol), kita bisa melakukan prates , memberikan perlakuan, dan kemudian mengadakan pascates untuk mengukur pengaruh perlakuan. Tetapi, pengaruh pengujian dan instrumentasi dapat mencemari validitas internal. Jika dilakuakan selama satau periode waktu, pengaruh sejarah dan maturasi juga mungkin mengacaukan hasil.
Kelompok eksperimen dan control hanya dengan pascates
Sejumlah desain eksperimen direncanakan dengan kelompok eksperimen dan control, yang pertama diberi perlakuan, dan yang terakhir tidak. Pengaruh perlakuan dipelajari dengan menilai perbedaan hasil. Perhatian harus diberikan untuk memastikan kelompok mengalami pemadanan untuk semua kemungkinan faktor pengganggu yang mencemari. Sebaliknya, pengaruh perlakuan yang sebenarnya tidak dapat ditentukan hanya dengan melihat perbedaan skor pascates kedua kelompok. Randomisasi akan mengatasi masalah tersebut. Ada ancaman terhadap validitas dalam desain ini, jika kedua kelompok tidak cocok atau tidak ditempatkan secara acak, bias seleksi dapat mencemari hasil. Mortalitas juga bisa mengacaukan hasil, dan dengan demikian merupakan ancaman terhadap validitas internal.
Desain eksperimen murni
Desain eksperimen, yang meliputi perlakuan, kelompok control, dan merekam informasi sebelum dan sesudah kelompok eksperimen diberi perlakuan, disebut sebagai desain eksperimen ex post facto.
Pra dan pascates desain kelompok eksperimen dan kontrol
Kedua kelompok eksperimen dan kontrol sama-sama mengalami pra dan pascates. Perbedaan antara keduanya adalah yang satu diberi perlakuan dan yang satu tidak. Mengukur perbedaan antara skor pra dan pascates kedua kelompok akan menunjukkan pengaruh netto dari perlakuan. Berdasakran fakta bahwa apapun yang terjadi dengan kelompok eksperimen (misalnya, maturasi, sejarah, pengujian, dan instrumentasi) juga terjadi pada kelompok kontrol, dan dalam mengukur pengaruh netto kita telah mengontrol faktor yang mencemari. Melalui proses randomisasi, kita pun mengontrol pengaruh bias seleksi dan regresi statistik. Namun mortalitas bisa menjadi masalah dalam desain ini.
Desain empat kelompok salomon
Untuk memperoleh validitas internal yang lebih tinggi dalam desain eksperimen, disarankan untuk merencanakan dua kelompok eksperimen dan dua kelompok kontrol untuk eksperimen. Satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol bisa diberi prates dan pascates, dan sisanya diberi pasca tes saja. Dalam hal ini, pengaruh perlakuan bisa ditentukan dengan beberapa cara berbeda. Pada tingkat dimana kita memperoleh hasil yang berbeda, kita dapat menghubungkan pengaruh dengan perlakuan. Hal tersebut meningkatkan validitas internal hasil desain eksperimen. Mungkin merupakan yang paling komprehensif dan desain dengan paling sedikit memiliki masalah validitas internal.
Studi buta berganda
Jika ketelitian dan keketatan ekstrim diperlukan dalam desain eksperimen, studi bias dilakukan untuk menghindari bias yang mungkin timbul. Disini peneliti dan subjek tidak mengetahui yang sebenarnya. Karena tidak ada gangguan perlakuan dalam hal apapun, studi eksperimen ini merupakan yang paling tidak bias.
Desain ex post facto
Hubungan sebab-akibat terkadang dibuktikan melalui apa yang disebut desain ex post facto. Di sini, tidak ada manipulasi variabel bebas dalam situasi lab atau lapangan, namun subjek yang telah diberi stimulus dan mereka yang tidak diberi, dipelajari.

Simulasi
Alternative eksperimen lab dan lapangan yang saat ini dipergunakan dalam penelitian bisnis adalah simulasi. Simulasi yang menggunakan teknik membangun model untuk menentukan pengaruh perubahan, dan simulasi berbasis computer menjadi popular dalam penelitian bisnis. Simulasi dapat dianggap sebagai eksperimen yang dilakukan dalam situasi yang diciptakan secara khusus yang sangat dekat mewakili lingkungan alami di mana kegiatan biasanya berlangsung. Dalam pengertian tersebut, simulasi berada diantara eksperimen lab dan lapangan, sejauh lingkungan diciptakan secara artificial tetapi tidak jauh berbeda dari realitas.
Hubungan kausal bisa diuji karena manipulasi dan control adalah mungkin dalam simulasi. Dua jenis simulasi dapat dilakukan: yang satu dimana sifat dan waktu peristiwa simulasi sepenuhnya ditentukan oleh peneliti (disebut simulasi eksperimen), dan lainnya (disebut simulasi bebas) dimana rangkaian aktivitas setidaknya setengah diatur oleh reaksi peserta pada beragam stimulus data mereka berinteraksi satu sama lain.
Hubungan sebab-akibat paling baik dibuktikan dalam simulasi eksperimen dimana peneliti memegang kontrol lebih besar. Tetapi dalam simulasi yang berlangsung bisa terjadi tingkat pengurangan anggota yang tinggi. Kedua simulasi sama-sama mahal, karena menciptakan kondisi dunia nyata dalam sebuah situasi buatan dan mengumpulkan data selama periode waktu yang panjang melibatkan penggunaan banyak jenis sumber daya. Adalah mungkin untuk mengubah-ubah beberapa variabel satu demi satu atau secara serempak dalam model tersebut. Prototype mesin dan instrument merupakan hasil model simulasi. Simulasi juga banyak digunakan oleh banyak perusahaan untuk menguji keandalan, risiko, alat pembuat keputusan dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers

Calendar