Jumat, 11 Mei 2012

MENULIS LAPORAN STUDI KASUS

Share it Please


Pelaporan studi kasus bisa menggunakan bentuk tertulis ataupun lisan. Langkah-langkah yang perlu diikuti dalam proses penyusunannyaialah mengidentifikasi sasaran laporan, mengembangkan susunan karangan, dan mengikuti prosedur tertentu.
Tahap pelaporan merupakan salah satu tahap yang sebenarnya paling sulit dalam penyelenggaraan studi kasus. Saran terbaik untuk itu ialah menyusun porsi-porsi studi kasus yang bersangkutan terlebih dahulu, dan membuat rancangan beberapa rangkaian laporan, ketimbang menunggu sampai akhir proses analisis data. Enam alternatif bentuknya, yaitu: analitis-linear, komparatif, kronologis, pembangunan teori, ketegangan, dan tak berurutan.

A.      AUDIENS STUDI KASUS
1.       Lingkup Calon Audiens
Studi kasus mempunyai serangkaian kemungkinan audiens yang lebih berbeda ketimbang yang dimiliki tipe-tipe penelitian yang lain. Audiens-audiens ini meliputi: (a) kolega-kolega di lapangan yang sama, (b) para pembuat kebijakan, praktisi, pemimpin masyarakat, dan profesional lainnya yang tidak berspesialisasi dalam metodologi studi kasus, (c) kelompok-kelompok khusus seperti panitia disertai atau tesis mahasiswa, dan (d) para penyandang dana penelitian.
Studi kasus mempunyai audiens yang lebih banyak ketimbang tipe-tipe penelitian yang lain, dan tugas esensial dalam pendesainan keseluruhan studi kasus adalah mengidentifikasi audiens-audiens spesifik untuk laporan tersebut. Masing-masing audiens mempunyai kebutuhan yang berbeda, dan tak ada satu pun laporan yang dapat melayani semua audiens sekaligus.
Untuk para kolega, hubungan antara studi kasus, temuan-temuannya, dan teori atau penelitian terdahulu tampaknya menjadi hal yang paling penting. Jika suatu studi kasus berhasil dalam memikul hubungan-hubungan ini, studi kasus tersebut barangkali akan secara luas terbaca dalam jangka panjang.
Bagi para nonspesialis, unsur-unsur deskriptif dalam memotret beberapa situasi kehidupan nyata tersebut, demikian pula implikasinya untuk tindakan, tampaknya akan menjadi lebih penting.
Bagi suatu peneliti tesis, penguasaan isu-isu metodologis dan teoritis suatu topik studi kasus, suatu indikasi kepedulian dengan mana penelitian diselenggarakan, dan bukti bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah berhasil menegosiasikan semua tahap proses penelitiannya adalah sangat penting sekali.
Bagi para penyandang dana, ketepatan temuan-temian studi kasus, apakah mengarah ke terminologi-terminologi akademis ataupun praktis, barangkali sama pentingnya dengan ketnagguhan penyelenggaraan penelitiannya. Dikarenakan perbedaan diantara para audiens ini, komunikasi yang berhasil dengan lebih dari satu audiens merupakan kebutuhan terhadapa lebih dari satu versi laporan studi kasus.
2.       Komunikasi Melalui Studi Kasus
Suatu perbedaan lain antara studi kasus dan tipe-tipe penlitian lainnya adalah bahwa laporan studi kasus bisa menjadi perangkat yang signifikan. Studi- studi kasus dapat mengkomunikasikan informasi berdasarkan penelitian tentang suatu fenomena kepada berbagai pihak nonspesialis.
3.       Mengorientasikan Laporan Studi Kasus pada Kebutuhan Audiens
Secara keseluruhan, kesukaan yang diduga dari audiens yang potensial hendaknya mengarahkan bentuk suatu laporan studi kasus. Walaupun prosedur dan metodologi penelitian yang bersangkutan seharusnya mengikuti pedoman lainnya. Seperti, laporan itu harus mencerminkan tekanan, rincian, bentuk kekurangan, dan bahkan kepanjangan yang cocok dengan kebutuhan audiens yang potensial. Kesalahan terbesar yang dapat dilakukan seorang peneliti ialah mengarang suatu laporan dari suatu perspektif egosentrik. Ini terjadi jika suatu laporan diselesaikan tanpa mengidentifikasi audiens khusus atau pemahaman terhadap kebutuhan spesifik dari audiens. Saran untuk menghindari hal itu yaitu mengidentifikasi audiens sebagaimana tercatat sebelum ini. Saran selanjutnya, memeriksa laporan-laporan studi kasus terdahulu yang telah berhasil berkomunikasi dengan audiens.

B.      JENIS-JENIS LAPORAN STUDI KASUS
1.       Laporan Tertulis sebagai Kebalikan Tak Tertulis
Laporan studi kasus tidak harus menggunak bentuk tertulis saja sebagai suatu penyajian lisan atau bahkan serangkaian gambar atau rekaman. Namun, hasil-hasil tertulis menawarkan keuntungan yang penting. Informasi yang tepat dapat dimuat dan dikomunikasikan di dalamnya ketimbang melalui bentuk-bentuk lisan ataupun gambar. Produk tertulis juga mempunyai keuntungan pada segi keakraban, baik bagi penulis maupun pembacanya. Walaupun demikian, bentuk-bentuk penyajian yang inovatif handaknya tetap dicari.
2.       Jenis-jenis Laporan Tertulis
Di antara bentuk studi-studi kasus tertulis, paling sedikit ada empat jenis yang penting. Pertama, adalah studi kasus tunggal klasik. Narasi tunggal digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kasus yang bersangkutan. Selain itu, informasi naratif bisa ditambah dengan tabel, bisa dengan sajian grafik ataupun gambar.
Yang kedua, adalah versi multikasus dari kasus tunggal klasik. Laporan multikasus ini berisi multi narasi, biasanya disajikan sebagai bab atau bagian yang terpisah, mengenai masing-masing kasus secara tunggal. Dan juga berisi bab atau bagian yang mencakup analisis dan hasil lintas kasus.
Ketiga, meliputi baik studi multikasus ataupun kasus tunggal tetapi tidak berisi narasi yang tradisional. Namun begitu, tulisan untuk masing-masing kasus mengikuti serangkaian pertanyaan dan jawaban, berdasarkan atas pertanyaan dan jawaban  yang ada pada data studi kasus yang bersangkutan. Untuk tujuan-tujuan pelaporan, isi dari data dasar tersebut diperpendek dan diedit untuk penyesuaiannya kembali, dengan produk akhirnya yang masing-masing mengasumsikan format, secara analog, pengujian yang komprehensif.
Jenis keempat hanya menunjuk ke studi-studi multi kasus. Dalam hal ini, mungkin tidak ada bab atau bagian tersendiri yang diperuntukkan bagi kasus-kasus individual tersebut. Malahan, keseluruhan laporan yang bersangkutan bisa terdiri atas analisis lintaskasus, apakah sepenuhnya deskriptif ataukah juga mencakup topik-topik eksplanatoris.
C.      STRUKTUR LAPORAN STUDI KASUS
Enam struktur yang diharapkan akan bisa mengurangi persoalan-persoalan karangan yang dihadapi para peneliti, di antaranya sebagai berikut:
1.       Struktur Analitis Linier
Struktur ini adalah pendekatan standar untuk mengarang laporan penelitian. Urutan sub-subtopinya mencakup isu atau persoalan yang akan diteliti, metode yang digunakan, temuan dari data yang dikumpulkan dan dianalisis, dan konklusi-konklusi serta implikasi-implikasi dari temuan tersebut.
2.       Struktur Komparatif
Struktur komparatif mengulangi studi kasus yang sama dua kali atau lebih, yang membandingkan alterrnatif desktiptif atau eksplanasi kasus yang sama.
3.       Struktur Kronologis
Karena studi-studi kasus umumnya meliputi peristiwa-peristiwa di waktu lembur, jenis pendekatan yang ketiga ini merupakan bukti studi kasus tersebut dalam urutan kronologis.
4.       Struktur Pengembangan Teori
Di dalam pengembangan ini, urutan bab-bab atau bagian-bagian akan mengikuti logika pengembangan teori. Logika tersebut akan tergantung kepada topik dan teori yang spesifik, tetapi masing-masing bab atau bagian harus menyelesaikan bagian baru dari argumentasi teoritis yang akan dibuat. Pendekatan tersebut relevan baik dengan studi kasus eksplanatoris maupun eksploratoris, yang keduanya bisa berkenaan dengan pengembangan teori.
5.       Struktur Ketegangan
Struktur ini berlawanan arah dengan pendekatan analitis. Jawaban atau hasil langsung suatu studi kasus adalah. Secara paradoks, disajikan di dalam bab atau bagian pendahuluan. Jenis pendekatan ini terutama relevan untuk studi-studi kasus eksplanatoris, karena studi kasus deskriptif tidak mempunyai hasil khusus yang penting.
6.       Struktur Tak Berurutan
Struktur tak berurutan adalah suatu struktur yang urutan bagian atau babnya mengasumsikan tidak adanya kepentingan khusus. Struktur ini seringkali memadai untuk kasus-kasus deskriptif. Jika struktur tak berurutan digunakan, peneliti yang bersangkutan betul-betul perlu memperhatikan satu per satu persoalannya, yaitu suatu uji kelengkapannya.
D.      PROSEDUR-PROSEDUR PENGERJAAN LAPORAN STUDI KASUS
Tiga prosedur penting patut mendapat perhatian lebih lanjut. Yang pertama berkaitan dengan taktik umum untuk memulai suatu laporan, yang kedua mencakup persoalan apakah membiarkan kasus tersebut untuk mengidentifikasi persoalan yang tak berurutan, dan yang ketiga mendeskripsikan suatu prosedur tinjauan ulang guna meningkatkan validitas konstruk suatu studi kasus.
1.       Kapan dan Bagaimana Memulai Penulisan
Prosedur yang pertama adalah memulai penulisan di awal proses analisis. Semenjak permulaan suatu penelitian, bagian-bagian tertentu laporannya akan selalu bisa dituliskan walaupun masih dalam bentuk naskah, dan penulisan draft  ini hendaknya dilakukan bahkan sebelum pengumpulan dan analisis data dilakukan.
Bagian metodologi juga bisa di konsep pada tahap ini karena prosedur utama untuk pengumpulan dan analisis data seharusnya manjadi bagian dari desain studi kasus.
2.       Identifikasi Kasus Nyata atau Tersamar?
Pilihan yang paling disukai adalah menyingkap identitas baik kasus maupun individualnya. Penyingkapan membuahkan dua hasil yang membantu. Pertama, pembaca mampu mengingat kembali informasi lain sebelumnya yang mungkin telah dipelajari tentang kasus yang sama dari penelitian terdahulu atau sumber-sumber lain. Kedua, keseluruhan kasus dapat ditinjau kembali secara lebih siap, agar catatan-catatan kaki dan sitat-sitatnya dapat diperiksa, bila perlu, dan kritik-kritik yang cocok dapat dikemukakan tentang kasus yang dipublikasikan tersebut.
Ada beberapa keadaan dimana tanpa nama menjadi perlu. Alasan umum ialah bahwa ketika studi kasus tersebut berada pada suatu topik yang kontraversial, tanpa nama bisa melindungi kasus yang sesungguhnya dan partisipan yang sebenarnya. Alasan selanjutnya ialah bahwa penerbitan laporan akhir dari kasus yang bersangkutan bisa mempengaruhi perilaku-perilaku berikutnya dari perilaku yang diselidiki.
Upaya kompromi, yang pertama, peneliti harus menentukan apakah tanpa nama dari individu itu sendiri sudah mencukupi sehingga studi kasus itu bisa lebih dikenal secara tepat. Yang kedua menghindari sudut pandang atau komentar tertentu yang tertuju ke perorangan, yang sekali lagi memungkinkan kasus tersebut untuk diidentifikasi secara tepat. Untuk studi-studi multikasus, kompromi yang ketiga menghindari penulisan laporan kausal tunggal dan hanya menulis analisis lintas kasus.
Jika kompromi tersebut tak mungkin digunakan, maka peneliti bisa membuat keseluruhan studi kasus tersebut dan para informannya tak bernama. Akan tetapi, keadaan tanpa nama tak harus dipandang sebagai hasil yang dikehendaki.
3.       Tinjauan Ulang Naskah Studi Kasus: Suatu Prosedur Validasi
Peninjauan kembali naskah laporan, tidak hanya oleh kolega tetapi juga oleh partisipan dan informan khusus yang bersangkutan. Para informan dan partisipan mungkin masih tak sependapat dengan konklusi dan interpretasi peneliti, tetapi para peninjau ulang ini hendaknya jangan tak sependapat dengan fakta-fakta actual daripada kasus tersebut. Seringkali peluang untuk meninjau ulang naskah menghasilkan bukti lanjutan, yang mungkin informan bisa mengingat bahan baru yang telah mereka lupakan selama periode pengumpulan data awal.
Dari sudut metodologi, perbaikan-perbaikan yang dibuat melalui prosedur ini akan mengembangkan ketepatan studi kasus tersebut, disamping meningkatkan validitas konstruk penelitian yang bersangkutan.
Tinjauan ulang terhadap naskah studi kasus oleh para informan akan dengan jelas memperpanjang waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan laporan studi kasus.
E.       YANG MEMBUAT STUDI KASUS DAPAT DITELADANI
Dalam semua penelitian studi kasus, salah satu tugas yang paling menantang adalah menentukan suatu studi kasus yang patut diteladani. Lima karakteristik umum dari suatu studi kasus yang patut diteladani dideskripsikan berikut ini:
1.       Studi Kasus Harus Signifikan
Kadang Studi kasus tunggal dipilih karena kasusnya menyenangkan, ini dipandang sebagai suatu temuan dan member peluang pengerjaan studi kasus yang bisa diteladani. Alternatifnya, kasus penting mungkin dipilih karena keinginan untuk membandingkan dua proposisi tandingan. Jika proposisi tersebut berada pada inti teori yang telah cukup diketahui studi kasus tersebut akan menjadi signifikan. Akhirnya, adanya suatu situasi dimana perkembangan temuan ataupun teorinya diperoleh dalam studi kasus yang sama, seperti dalam studi multikasus yang masing-masing kasus individualnya memunculkan temuan tetapi replika lintas kasusnya juga memberikan pemecahan teoritis yang signifikan.
2.       Studi Kasus Harus Lengkap
Untuk studi kasus, kelengkapan dapat dikarakteristikan pada sedikitnya tiga cara. Pertama, kasus yang lengkap adalah kasus di mana batas-batas kasusnya (yaitu perbedaan antara fenomena yang akan diteliti dan konteksnya) diberi perhatian eksplisit.
Cara kedua, mencakup pengumpulan bukti. Studi kasus yang lengkap harus menunjukkan secara meyakinkan bahwa peneliti mempertaruhkan upaya yang melelahkan dalam pengumpulan bukti yang relevan.
Cara yang ketiga, mempermasalahkan ketiadaan kondisi buatan terrtentu. Studi kasus tidak akan lengkap jika studi kasus tersebut berakhir hanya karena sumber-sumbernya jenuh, peneliti kehabisan waktu, atau karena menemui kendala nonpenelitian lainnya. Bilamana kendala waktu atau sumber diketahui pada awal penelitian, peneliti yang bertanggungjawab harus mendesain studi kasus yang bisa diselesaikan dalam kendala-kendalasemacam itu, bukan mencapai serta melampaui keterbatasan dirinya.
3.       Studi Kasus Harus Mempertimbangkan Perspektif Alternatif
Untuk studi-studi kasus eksplanatoris, satu pendekatan yang berharga adalah pertimbangan proposisi tandingan dan analisis bukti dari sudut tandingan seperti itu. Tetapi, dalam pengerjaan studi kasus eksplanatoris ataupun deskriptif, pemeriksaan bukti dari perspektif yang berbeda tersebut akan meningkatkan kesempatan-kesempatan studi kasus untuk bisa diteladani.
4.       Studi kasus Harus Menampilkan Bukti Yang Memadai
Studi kasus yang patut diteladani adalah yang secara bijaksana dan efektif menyajikan bukti yang paling mendukung agar pembaca dapat memperoleh keputusan independen mengenai mutu analisisnya.
Selektivitas bukti yang paling adalah tidak memberantakkan penyajian dengan informasi pendukung yang sekunder. Tujuan lainnya ialah menyajikan bukti yang mencukupi untuk mencapai kemantapan pembaca bahwa peneliti mengetahui bidangnya.
5.       Studi Kasus Harus Ditulis dengan Cara yang Menarik
Untuk laporan tertulis, ini berarti gaya penulisan yang jelas, tetapi terus-menerus merangsang pembaca untuk melanjutkan bacaannya. Tulisan yang baik ialah tulisan yang memikat mata. Pemroduksian tulisan ini menuntut bakat dan pengalaman. Makin sering seseorang menulis untuk audiens yang sama, makin efektif komunikasinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers

Calendar