Jumat, 11 Mei 2012

PENYELENGGARAAN STUDI KASUS: PERSIAPAN PENGUMPULAN DATA

Share it Please


Persiapan untuk menangani studi kasus mencakup keterampilan-keterampilan yang dituntut dari peneliti, latihan dan persiapan untuk studi kasus spesifik, pengembangan protokol studi kasus, dan penyelenggaraan studi kasus perintis. Banyak orang salah meyakini bahwa mereka telah cukup terampil untuk menangani studi kasus karena mereka menganggap bahwa bahwa metode tersebut mudah untuk digunakan, yang pada kenyataannya penelitian studi kasus merupakan salah satu diantara tipe penelitian yang paling sulit untuk dikerjakan.
Latihan-latihan intensif perlu direncanakan, protokol studi kasus perlu dikembangkan dan disempurnakan kembali, serta penelitian perintis perlu diselenggarakan. Terutama jika penelitian yang bersangkutan berkenaan dengan desain multi kasus dan/atau mencakup banyak penelitian.
Persiapan pengumpulan data bisa menjadi hal yang rumit dan sulit. Jika kegiatan itu tak ditangani dengan baik, maka keseluruhan penyelidikan studi kasus bisa membahayakan, dan semua pekerjaan terdahulunya – dalam menetapkan persoalan dan pendesainan studi kasus – akan menjadi sia-sia.

A.      KETERAMPILAN-KETERAMPILAN YANG DIHARAPKAN DARI PENELITI STUDI KASUS
Keterampilan yang disyaratkan guna melaksanakan pengumpulan data studi kasus lebih berat ketimbang dalam eksperimen dan survei. Peneliti yang betul-betul terlatih dan berpengalaman diperlukan dalam penanganan studi kasus yang berkualitas dikarenakan adanya interaksi yang terus-menerus antara isu-isu teoritis yang akan diteliti dan data yang akan dikumpulkan. Selama pengumpulan data, hanya peneliti yang lebih berpengalaman yang akan mampu memanfaatkan peluang-peluang tak terduga, selalu selamat dari kemungkinan terperangkap dan bersikap cukup hati-hati dalam menghadapi prosedur yang bias.
Pokok-pokok keterampilan yang dituntut pada umumnya diketengahkan sebagai berikut:
·         Seseorang harus mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang baik dan menginterpretasikan jawaban-jawabannya.
·         Seseorang harus menjadi pendengar yang baik dan tak tertangkap oleh ideology atau prakonsepnya sendiri.
·         Seseorang hendaknya mampu menyesuaikan diri dan fleksibel, agar situasi yang baru dialami dapat dipandang sebagai peluang dan bukan ancaman.
·         Seseorang harus memiliki daya tangkap yang kuat terhadap isu-isu yang akan diteliti, apakah hal ini berupa orientasi teoritis atau kebijakan, ataupun bahkan berbentuk eksploratoris. Daya tangkap seperti itu mengurangi peristiwa-peristiwa yang relevan dan informasi yang harus dipilih kea rah proporsi yang bisa dikelola.
·         Seseorang harus tidak bias oleh anggapan-anggapan yang sudah ada sebelumnya; termasuk anggapan-anggapan yang diturunkan dari teori. Karena itu, seseorang harus peka dan responsive terhadap bukti-bukti yang kontradiktif.
Masing-masing ciri ini akan dijelaskan dibawah. Banyak diantara ciri tersebut yang masih bisa disempurnakan; karenanya seseorang yang tak memenuhi salah satu atau lebih dari keterampilan-keterampilan tersebut dapat mengembangkannya. Namun, setiap orang perlu jujur dalam menilai kemampuannya sendiri.
1.       Mengajukan Pertanyaan
Pikiran ingin tahu merupakan syarat utama selama melangsungkan pengumpulan data, dan bukan hanya sebelum dan sesudah kegiatan itu saja. Pengumpulan data mengikuti suatu rencana, tetapi informasi spesifik yang diperkirakan relevan tak dapat betul-betul diprediksikan. Begitu peneliti memasuki kerja lapangan tersebut, ia harus secara berkelanjutan melacak mengapa peristiwa-peristiwa yang bersangkutan bisa terjadi. Jika mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang baik, peneliti akan lelah secara mental dan emosional pada hari terakhirnya. Hal ini berbeda dengan pengalaman pengumpulan data pada eksperimen atau survei, dimana seseorang mungkin secara fisik lelah tetapi secara mental tidak.
Hal yang penting berkenaan dengan pengajuan pertanyaan yang baik ialah memahami bahwa penelitian berkenaan dengan pertanyaan dan tak harus berkenaan dengan jawaban. Jika anda adalah tipe orang yang mudah terusik oleh sebuah pertanyaan menuju kearah kelompok besar pertanyaan-pertanyaan baru, dan jika pertanyaan-pertanyaan ini akhirnya mengarah ke penemuan signifikan tentang bagaimana atau mengapa suatu kenyataan, maka anda merupakan pengaju pertanyaan yang baik.
2.       Mendengarkan
Mendengarkan meliputi pengamatan dan perabaan yang lebih umum dan tak terbatas pada penuturan lisan. Menjadi pendengar yang baik berarti mampu membaurkan informasi baru dalam jumlah besar tanpa bias. Sewaktu pihak yang diwawancarai menyinggung suatu kejadian,  seorang pendengar yang baik mendengarkan kata-kata yang pasti digunakan oleh pihak yang diwawancarai, menangkap suasana hati dan komponen-komponen sikap, serta memahami konteks-konteks yang digunakan sebagai sudut pandang pihak yang diwawancarai.
Tipe keterampilan ini juga perlu diaplikasikan untuk pemeriksaan bukti dokumentasi dan pembuatan observasi langsung terhadap suatu situasi. Dalam mengulas dokumen, pertanyaan yang baik untuk diajukan adalah apakah ada pesan penting diantara alur-alur yang bersangkutan; inferensi-inferensi tentu saja perlu dikuatkan dengan sumber-sumber informasi yang lain, tetapi pemikiran-pemikiran yang penting bisa diperoleh dengan cara ini. Pendengar yang lemah bahkan bisa tak menyadari adanya informasi di antara alur tersebut. Pendengar lain yang kurang berpengetahuan adalah pendengar yang pikirannya tertutup atau mempunyai daya ingat yang lemah.
3.       Penyesuaian Diri dan Fleksibilitas
Sangat sedikit studi kasus yang berakhir tepat seperti yang direncanakan. Tak dapat dihindari keharusan adanya perubahan-perubahan kecil/besar, mulai dari kebutuhan untuk mengidentifikasi kasus baru yang perlu diteliti hingga keperluan untuk mengejar arah-arah yang tak terduga. Peneliti yang cakap harus ingat tujuan awal penelitiannya, tetapi selanjutnya harus mau mengubah prosedur atau rencananya jika ternyata terjadi peristiwa-peristiwa yang tak terantisipasi.
4.       Memegang Teguh Isu-isu yang Akan Diteliti
Cara utama untuk tetap kukuh pada target adalah memahami tujuan semula dari penelitian studi kasusnya sendiri. Setiap peneliti studi kasus harus memahami isu-isu teoritis atau kebijakan tersebut, karena keputusan harus dibuat selama fase pengumpulan data. Tanpa memegang erat isu-isu, seseorang peneliti dapat kehilangan kunci-kunci penting dan tidak akan  mengetahui kapan suatu penyimpangan bisa diterima atau bahkan dikehendaki.
5.       Mengurangi Bias
Semua kondisi terdahulu akan disangkal jika peneliti hanya menggunakan studi kasus untuk memperkuat posisi sebelumnya. Para peneliti studi kasus terutama cenderung kepada persoalan ini karena mereka harus memahami isu-isu tersebut dan menguji kebebasan. Sebaliknya, pembantu peneliti , walaupun mekanistik dan bahkan mungkin tidak rapi, tidak mengenal bias kedalam penelitian tersebut. Sebuah tes terhadap kemungkinan bias ini adalah tingkat keterbukaan peneliti studi kasus terhadap temuan yang bertentangan. Kesimpulan-kesimpulan studi kasus harus merefleksikan temuan-temuan yang bertentangan. Untuk menyelenggarakan suatu tes yang baik, setiap peneliti harus melaporkan temuan-temuan terdahulunya mungkin masih pada fase pengumpulan data. Jika penelitian bagi penemuan-penemuan yang bertentangan tersebut dapat menghasilkan sangkalan-sangkalan yang dapat didokumentasikan, bias yang ada akan berkurang.
B.      LATIHAN DAN PERSIAPAN UNTUK STUDI KASUS YANG SPESIFIK
Kunci untuk memahami latihan yang dibutuhkan untuk studi kasus yang spesifik ialah memahami bahwa setiap peneliti harus mampu berperan sebagai peneliti senior. Karenanya, sekali berda dilapangan, setiap pekerja lapangan studi kasus merupakan peneliti yang mandiri dan tak dapat menggantungkan diri pada resep yang kaku guna menuntun prilakunya. Peneliti harus mampu membuat keputusan-keputusan yang cerdas tentang data yang akan dikumpulkan. Dalam kaitan ini, latihan untuk penelitian suatu studi kasus sebetulnya dimulai dengan penentuan persoalan yang akan diteliti dan pengembangan studi kasusnya. Sering kali terjadi bahwa penelitian studi kasus harus bergantung pada peneliti ganda, disebabkan oleh tiga kondisi berikut:
1.       Kasus tunggal mengundang pengumpulan data yang insentif pada situs yang sama, yang membutuhkan suatu tim peneliti.
2.       Studi kasus mencakup multi kasus, dengan orang yang berkaitan yang akan diperlakukan untuk mencakup setiap situs atau mengalir antar situsnya.
3.       Atau kombinasi antara keduanya.
Selain itu beberapa anggota tim peneliti mungkin belum berpartisipasi dalam penentuan masalah awal atau fase desain penelitian dari penyelidikan yang bersangkutan. Dalam konsisi seperti ini latihan dan persiapan formal merupakan pendahuluan yang esensial bagi kegiatan pengumpulan data yang sebenarnya.
1.       Latihan Studi Kasus Sebagai Pengalaman Seminar
Biasanya, seminar meliputi semua fase penelitian studi yang direncanakan, termasuk bahan-bahan pada mata ajaran, isu-isu teoritis yang mengarah ke desain studi kasus, serta metode-metode dan teknik-teknik studi kasus. Tujuan latihan tersebut adalah membuat semua partisipannya memahami konsep-konsep dasar, terminologi, dan isu-isu yang relevan terhadap penelitian yang bersangkutan. Tiap peneliti peril mengetahui:
·         Mengapa penelitian tersebut diselenggarakan;
·         Bukti apa yang akan dicari;
·         Variasi-variasi apa yang dapat diantisipasi dan;
·         Apa yang akan menjadi bukti pendukung atau bertentangan bagi preposisi yang telah ditentukan.
Diskusi-diskusi, bukan perkuliahan, merupakan bagian kunci dari upaya latihan, guna meyakinkan bahwa tingkat pemahaman yang dikehendaki telah tercapai.
Pendekatan seminar terhadap latihan studi kasus ini dapat sekali lagi bertentangan dengan latihan pewawancara survei. Latihan survey betul-betul mencakup diskusi, tetapi hal itu pada pokoknya menekan instrument atau kuesioner yang harus digunakan dan terjadi dalam suatu jangka waktu pendek yang intensif. Selain itu, latihan tersebut tidak termasuk dalam persoalan global atau konseptual penelitian yang bersangkutan, karena pekerjaan utama pewawancara adalah mempelajari mekanisme instrumen survei tersebut. Karenanya latihan survei jarang mencakup bacaan-bacaan di luar isu-isu substantive tersebut, dan pewawancara survei yang bersangkutan umumnya tak memiliki pemahaman luas tentang bagaimana data survei tersebut harus dianalisis dan isu-isu apa yang harus diselidiki. Hasil semacam itu akan kurang mencukupi bagi latihan studi kasus.
2.       Pengembangan dan Peninjauan Ulang Protokol (Alat Pemandu)
Tugas pokok seminar latihan tersebut karenanya mengembangkan suatu naskah protokol. Pada situasi ini, setiap pendamping peneliti bisa diberi tugas satu porsi topik yang substansial untuk dicakup studi kasusnya. Peneliti tersebut bertanggungjawab untuk meninjau ulang bahan bacaan yang cocok pada topik ini guna menambah informasi lain yang mungkin relevan, dan untuk mengonsep serangkaian pertanyaan awal protokol pada topic yang bersangkutan. Dalam seminar tersebut, keseluruhan kelompok peneliti studi kasus dapat mendiskusikan dan meninjau ulang setiap naskah protokol. Diskusi semacam ini tak hanya akan mengarah ke penyelesaian protokol tetapi juga akan member keyakinan bahwa setiap peneliti telah menguasai isi protokol tersebut, karena partisipasi dalam pengembangannya.
Jika tim peneliti studi kasus tersebut tidak berbagi tugas dalam pengembangan protokol tersebut, pertemuan-pertemuan latihannya harus mencakup ulasan protokol tersebut secara menyeluruh. Semua aspek protokol, apakah procedural atau substantive, perlu didiskusikan, dan mungkin perlu juga adanya modifikasi tertentu pada protokol tersebut.
3.       Permasalahan yang Harus Dituju
Latihan tersebut juga memiliki tujuan menyingkap permasalahan dalam rencana studi kasus tersebut atau kemampuan-kemampuan tim peneliti yang bersangkutan. Jika permasalahan semacam itu betul-betul muncul, hiburannya adalah bahwa permasalahan tersebut akan lebih menyulitkan  jika tidak dikenali hingga selanjutnya, setelah pengumpulan data tersebut dimulai. Peneliti studi kasus yang baik karenanya harus bisa meyakinkan pada diri sendiri, selama periode latihan tersebut bahwa permasalahan potensial itu akan bisa tersingkap.
Persoalan yang paling jelas adalah bahwa latihan  tersebut mungkin meunjukkan kelemahan dalam desain studi kasus yang bersangkutan atau bahkan penentuan masalah awal penelitian. Jika ini terjadi, peneliti harus bersedia melakukan revisi walaupun diperlukan lebih banyak waktu dan usaha untuk itu.
Persoalan yang kedua ialah pertemuan-pertemuan latihan tersebut mungkin menampilkan ketidak cocokan diantara tim peneliti – terutama sehubungan dengan kenyataan bahwa beberapa peneliti tak berbagi pendirian mengenai proyok. Bilamana bias semacam itu ditemukan, salah satu cara untuk menghadapi ideology yang bertentangan adalah menyarankan petugas lapangan agar mengumpulkan bukti yang bertentangan itu dan menguji kebenarannya.
Persoalan yang ketiga adalah latihan tersebut mungkin mengungkap batas waktu atau harapan yang tak dinyatakan sehubungan dengan sumber-sumber yang tersedia.
Terakhir, latihan tersebut bisa mengungkap bebrapa sifat positif. Proses pembentukan kelompok ini lebih dari sekedar keramahtamahan; dan hal ini akan meyakinkan reaksi-reaksi pendukung untuk waspada bahwa permasalahan-permasalahan yang tak diharapkan bisa muncul selama proses pengumpulan data.
C.      PROTOKOL STUDI KASUS
Selain berisi instrumen, protokol juga berisi prosedur dan aturan umum yang perlu diikuti dalam menggunakan instrumen tersebut.
Protokol studi kasus merupakan taktik umum  dalam meningkatkan reliabilitas penelitian  studi kasus dan dimaksudkan untuk membimbing peneliti dalam menyelenggarakan studi kasusnya. Protokol tersebut harus memiliki bagian-bagian berikut:  tinjauan umum proyek studi kasus, prosedur lapangan, pertanyaan-pertanyaan studi kasus, dan petunjuk untuk pembuatan laporan studi kasus.
Mengapa protokol demikian penting. Pertama, hal itu mengingatkan peneliti tentang apa sebenarnya studi kasusnya. Kedua, protokol merangsang peneliti untuk mengantisipasi beberapa masalah, termasuk masalah tentang bagaimana laporan-laporan studi kasus bisa diselesaikan. Hal ini berarti bahwa untuk laporan semacam itu audiens harus diidentifikasikan sebelum studi kasus itu diselenggarakan. Pemikiran dini seperti itu akan membantu menghindarkan kegagalan hasil yang berharga untuk jangka panjang.
1.       Tinjauan Umum Proyek Studi Kasus
Tujuan umum harus mencakup informasi latar belakang tentang proyek, isu-isu substantive yang akan diselidiki, dan bacaan-bacaan relevan dengan isu-isu tersebut.
2.       Prosedur Lapangan
Hal ini memiliki implikasi-implikasi penting untuk penentuan masalah dan desain.
3.       Pertanyaan-pertanyaan Studi Kasus
Inti protokol adalah serangkaian pertanyaan substantif yang mencerminkan keterangan aktual. Ada dua karakteristik yang membedakan pertanyaan-pertanyaan dalam situasi wawancara survei. Pertama, pertanyaan diajukan kepada peneliti yang bersangkutan, dan bukan kepada responden. Kedua, setiap pertanyaan harus disertai daftar tentang sumber bukti yang mungkin bisa ditemukan.
4.       Tuntunan Untuk Pembuatan Laporan Studi Kasus
Unsur ini biasanya hilang dalam perencanaan studi kasus. Peneliti enggan untuk memikirkan garis besar, format, atau audiens untuk laporan studi kasusnya hingga data terkumpul.
D.      STUDI KASUS PERINTIS
Persiapan akhir pengumpulan data adalah pelaksanaan suatu penelitian perintis. Kasus perintis dipilih atas beberapa alasan yang tak harus berkaitan dengan pemilihan kasus akhir dalam desain studi kasus yang bersangkutan. Studi kasus perintis bermanfaat untuk memperbaiki rencana pengumpulan data berkenaan dengan isi data dan prosedur yang harus diikuti. Studi kasus perintis bisa menjadi demikian penting karena sumber-sumber yang muncul pada tahap ini bisa lebih banyak ketimbang pada pengumpulan data kasus yang sesungguhnya. Untuk alasan seperti inilah, sub-subjudul yang memerlukan pembahasan lebih lanjut adalah: pemilihan kasus perintis, hakikat penelitian untuk kasus-kasus perintis, dan hakikat laporan dari kasus-kasus perintis
1.       Pemilihan Kasus-kasus Perintis
Secara umum kenyamanan, akses dan kedekatan geografis dapat menjadi criteria pokok bagi pemilihan kasus atau kasus-kasus perintis. Hal ini akan memungkinkan hubungan yang kurang terstruktur dan lebih berjangka panjang untuk berkembang diantara pihak yang diwawancarai dan pihak peneliti studi kasus ketimbang yang mungkin terjadi dalam situasi-situasi studi kasus yang sesungguhnya. Sutus perintis tersebut selanjutnya dapat mengasumsikan peran elaborative bagi para peneliti yang bersangkutan, yang memungkinkan mereka untuk mengamati fenomena yang berlainan dari banyak sudut pandang yang berbeda atau mencoba pendekatan-pendekatan yang berbeda pada suatu basis percobaan.
2.       Hakikat Penelitian Perintis
Penelitian untuk kasus perintis bisa lebih luas dan kurang terfokus daripada rencana pengumpulan data pokoknya. Selain itu, penelitian dapat mencakup baik isu-isu substantif maupun metodologis. Data perintis memberikan keterangan sangat penting ke dalam isu-isu dasar yang akan diteliti. Informasi ini digunakan secara paralel dengan tinjauan kepustakaan yang relevan mendatang, sehingga desain akhir terinformasikan lebih baik oleh teori-teori yang paling lazim maupun serangkaian observasi empiris yang segar. Variasi-variasi dalam prosedur dicoba didalam pelaksanaan studi kasus perintis, hasil-hasilnya diumumkan, dan akhirnya suatu prosedur yang memuaskan dikembangkan untuk rencana pengumpulan data yang resmi.
3.       Laporan Kasus-kasus Perintis
Laporan-laporan kasus perintis sebetulnya berharga bagi peneliti yang bersangkutan dan perlu ditulis dengan jelas, bahkan dalam bentuk memorandum. Suatu perbedaan antara laporan perintis dan laporan-laporan perintis tersebut harus eksplisit tentang pelajaran-pelajaran yang dikaji baik untuk desain penelitian maupun prosedur lapangannya.
Jika yang direncanakan lebih dari satu kasus perintis, laporan dari satu kasus perintis tersebut juga dapat menunjukkan modifikasi-modifikasi yang harus diupayakan dalam kasus perintis berikutnya. Dengan kata lain, laporan tersebut dapat berisi agenda untuk kasus selanjutnya. Jika kasus perintis telah dikerjakan dengan cara demikian, agenda terakhirnya sebetulnya bisa menjadi prototipe yang bagus untuk protocol studi kasus akhir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers

Calendar