Jumat, 04 Mei 2012

Proses penelitian Langkah 6: unsur-unsur desain penelitian

Share it Please



Desain penelitian
Isu-isu yang berkaitan  dengan keputusan mengenai tujuan studi, letaknya, jenis yang sesuai untuk penelitian, tingkat manipulasi dan control peneliti, aspek temporal, dan level analisis data adalah integral dari desain penelitian. Tingkat keketatan ilmiah dalam sebuah studi penelitian bergantung pada bagaimana ketelitian manajer / peneliti memilih alternative desain yang tepet, mempertimbangkan tujuan khususnya. Perhatian yang memadai harus diberikan pada desain sampel, pengukuran, pengumpulan data dan seterusnya. Perlu diingat bahwa semakin ketat dan canggih desain penelitian, semakin besar waktu, biaya dan sumberdaya lain yang akan dihabiskan untuknya. Karena itu adalah relevan untuk bertanya kepada diri sendiri pada setiap poin pilihan apakah manfaat yang berasal dari desain yang lebih canggih untuk memastikan akurasi, keyakinan, generalisasi, dan seterusnya, sepadan dengan investasi sumberdaya yang lebih besar.
Tujuan studi : eksploratif, deskriptif, pengujian hipotesis, analisis studi kasus
Studi kasus merupakan penyelidikan studi yang dilakukan dalam situasi organisasi lain yang mirip, yang juga merupakan metode pemecahan masalah, atau untuk memahami fenomena yang diminati dan menghasilkan pengetahuan lebih lanjut dalam bidang tersebut. Sifat studi - entah eksploratif, deskriptif, atau pengujian hipotesis – bergantung pada tahap peningkatan pengetahuan mengenai topik yang diteliti.
Studi eksploratif
Dilakukan jika tidak banyak yang diketahui mengenai situasi yang dihadapi, atau tidak ada informasi yang tersedia mengenai bagaimana masalah atau isu penelitian yang mirip diselesaikan di masa lalu.  Studi eksploratif dilakukan untuk memahami dengan lebih baik sifat masalah karena mungkin baru sedikit studi yang telah dilakukan dalam bidang tersebut. Wawancara ekstensif dengan banyak orang mungkin harus dilakukan untuk menangani situasi dan memahami fenomena. Penelitian yang lebih ketatpun dapat dilaksanakan. Studi eksploratif penting untuk memperoleh pengertian yang baik mengenai fenomena perhatian dan melengkapi pengetahuan lewat pengembangan teori lebih lanjut dan pengujian hipotesis.
Studi deskriptif
Dilakukan untuk mengetahui dan menjadi mampu untuk menjelaskan karakteristik variabel yang diteliti dalam suatu situasi. Tujuan diskriptif adalah memberikan kepada peneliti sebuah riwayat atau untuk menggambarkan aspek-aspek yang relevan dengan fenomena perhatian dari perspektif seseorang, organisasi, atau lainnya. Studi deskriptif yang menampilakan data dalam bentuk yang bermakna, dengan demikian membantu untuk, (1) memahami karakteristik sebuah kelompok dalam situasi tertentu, (2) memikirkan secara sistematis mengenai berbagai aspek dalam situasi tertentu, (3) memberikan gagasan untuk penyelidikan dan penelitian lebih lanjut, dan / atau (4) membuat keputusan tertentu yang sederhana.
Pengujian hipotesis
Studi yang termasuk dalam pengujian hipotesis biasanya menjelaskan sifat hubungan tertentu, atau menentukan perbedaan antar kelompok atau kebebasan (independensi) dua atau lebih faktor dalam suatu situasi.
Analisis studi kasus
Meliputi analisis kontekstual dan mendalam terhadap hal yang berkaitan dengan situasi serupa dalam organisasi lain. Studi kasus sebagai sebuah teknik pemecahan masalah, tidak sering dilakukan dalam organisasi karena penemuan jenis masalah yang sama dalam konteks perbandingan dengan yang lain adalah sulit, mengingat keengganan perusahaan untuk menyingkapkan permaslahan mereka. Tetapi, studi kasus yang bersifat kualitatif adalah berguna dalam menerapkan solusi pada masalah terkini berdasarkan pengalaman pemecahan masalah di masa lalu, ini berguna dalam memahami fenomena tertentu dan menghasilkan teori lebih lanjut untuk pengujian empiris.
Tinjauan tujuan studi
Tidak sulit untuk melihat bahwa dalam studi eksploratif, peneliti pada dasarnya berminat unutk menyelidiki faktor-faktor situasional untuk memperoleh pengertian mengenai karakteristik fenomena yang diteliti. Demikian pula, studi awal pada sekala kecil, dengan mewawancarai orang-orang atau mendapatkan informasi dari jumlah kejadian yang terbatas, adalah tidak umum dalam penelitian eksploratif.
Studi deskriptif tidak dilakukan jika karakteristik atau fenomena yang tampak dalam sebuah situasi diketahui eksis, dan seseorang ingin mampu menjelaskannya secara lebih baik dengan memberikan riwayat mengenai faktor terkait. Pengujian hipotesis menawarkan  pemahaman yang lebih baikj mengenai hubungan yang eksis antarvariabel. Hal tersebut juga dapat menentukan hubungan sebab-akibat. Pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan data kualitatif dan kuantitatif. Studi kasus umumnya bersifat kualitatif dan kadang –kadang digunakan sebagai alat dalam pengambulan keputusan manajerial.
Keketatan metodologi meningkat saat kita bergerak secara progresif dari studi eksploratif ke studi pengujian hipotesis, dan dengan itu, biaya penelitian juga meningkat.
Jenis investigasi: kausal vs korelasional
Manajer harus menentukan apakah yang diperlukan adalah studi kasual atau korelasional. Yang pertama dilakukan adalah menentukan hubungan sebab-akibat yang definitif. Tetapi, jika yang diinginkan manajer adalah sekedar identifikasi faktor-faktor penting yang berkaitan dengan masalah, maka studi korelasional dipilih. Maksud mengadakan studi kausal adalah agar mampu menyatakan bahwa variabel x menyebabkan variabel y. jadi, jika variabel x dihilangkan atau diubah dalam cara tertentu, masalah y terpecahkan. Berdasarkan fakta sangat sering terdapat faktor yang mempengaruhi satu sama lain dan masalah dalam cara yang berurutan, peneliti mungkin diminta untuk mengidentifikasi faktor-faktor penting yang berkaitan dengan masalah, dan bukannya menentukan hubungan sebab-akubat.
Studi dimana peneliti ingin menemukan penyebab dari satu atau lebih masalah disebut studi kausal (casual study). Jika peneliti berminat untuk menemukan variabel penting yang berkaitan dnegan masalah, studi tersebut disebut studi korelasional (correlational study). Terkadang diperlukan upaya untuk menentukan hubungan sebab-akibat melalui jenis analisis korelasional atau regresi tertentu. Entah sebuah studi adalah kasual atau korelasional, seseorang dengan demikian bergantung pada jenis pertanyaan penelitian yang diajukan dan bagaimana masalah didefinisikan.
Tingkat intervensi peneliti terhadap studi
Tingkat intervensi peneliti terhadap arus kerja normal di tempat kerja mempunyai keterkaitan langsung dengan apakah studi yang dilakukan adalah kasual atau korelasional. Studi korelasional dilakukan dalam lingkup alami organisasi dengan intervensi minimum oleh peneliti dan arus kerja yang normal. Dalam studi yang dilakukan untuk memanipulasi variabel tertentu untuk mempelajari akibat manipulasi tersebut pada variabel terkait yang diteliti. Dengan kata lain, peneliti dengan sengaja mengubah variabel tertentu dalam konteks dan mengintervensi peristiwa sejauh peristiwa itu terjadi secara normal dalam organisasi. Dalam hal lain, peneliti mungkin ingin menciptakan situasi buatan yang sama sekali baru, dimana hubungan sebab-akibat dapat dipelajari dengan memanipulasi variabel tertentu dan dengan ketat mengendalikan variabel lainnya. Dengan demikian terdapat bermacam-macam (minimal, sedang, dan berlebih) intervensi peneliti dalam memanipulasi dan control variabel dalam studi penelitian, entah dalam situasi alami atau dalam situasi lab artificial.
Situasi studi: diatur dan tidak diatur
Studi korelasional selalu dilakukan dalam situasi tidak diatur, sedangkan kebanyakan studi kausal yang ketat dilaksanakan dalam situasi lab yang diatur.
Studi korelasional yang dilakukan dalam organisasi disebut studi lapangan (field study). Studi yang dilakukan untuk menentukan hubungan sebab-akibat menggunakan lingkungan alami yang sama, dimana karyawan berfungsi secara normal disebut eksperimen lapangan (field experiment).
Eksperimen yang dilakukan untuk menentukan hubungan sebab-akibat yang melampaui kemungkinan dari setidaknya keraguan memerlukan pembuatan sebuah lingkungan yang artificial dan teratur, dimana semua faktor asing dikontrol dengan ketat. Subjek yang sama dipilih secara seksama untuk merespon stimuli tertentu yang dimanipulasi. Studi tersebut dianggap sebagai eksperimen lab (lab experiment).
Unit analisis: individu, pasangan (DYADS), kelompok, organisasi, kebudayaan
Unit analisis merujuk pada tingkat kesatuan data yang dikumpulkan selama tahap analisis data selanjutnya. Data yang  dikumpulkan dari setiap individu unit analisis adalah individual. Jika peneliti berminat mempelajari interaksi dua orang, dikenal sebagai padangan (dyads) akan menjadi unit analisis. Tetapi, jika pernyataan masalah berkaita dengan efektivitas kelompok, maka unit analisis adalah pada tingkat kelompok, dan selanjutnya unit analisis pada tingkatan lainnya. Karakteristik dari tingkat analisis adalah bahwa tingkat yang lebih rendah termasuk dalam tingkatan yang lebih tinggi. Sifat informasi yang dikumpulkan, serta tingkat dimana data dijumlahkan untuk analisis, adalah integral dengan keputusan yang dibuat dalam memilih unit analisis. Adalah peru untuk memutuskan tentang unit analisis, bahkan saat kita merumuskan pertanyaan penelitian karena metode pengumpulan data, ukuran sampel, dan bahkan variabel yang termasuk dalam kerangka mungkin terkadang ditentukan atau dibimbing oleh tingkat dimana data dijumlahkan untuk analisis.
Horizon waktu: studi cross-sectional vs longitudinal
Studi cross-section
Sebuah studi dapat dilakukan dengan data yang hanya sekali dikumpulkan, mungkin selama periode harian , mingguan , atau bulanan dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian.pengumpulan data pada satu batas waktu sudah memadai.
Studi longitudinal
Dalam sejumlah kasus, peneliti mungkin ingin mempelajari fenomena pada lebih dari satu batas waktu dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian. Data dikumpulkan pada dua batas waktu yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers

Calendar