Minggu, 08 Mei 2011

KAJIAN ILMIAH TERHADAP PANCASILA

Share it Please

A.   Pengetahuan, Ilmu Empiris dan Filsafat
Manusia adalah makhluk berpikir. Oleh karena itu manusia dapat memahami dan menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan manusia ada yang diperoleh secara spontan dan secara sistematis-reflektif.
 Pancasila sebagai merupakan pengetahu-an yang reflektif, bukan pengetahuan spontan.Proses ini melalui kajian empiris dan filosofis.
 Pancasila sebagai pengetahuan ilmiah-filosofis dapat dipahami dari sisi verbalis, konotatif, denotatif.
 Untuk memahami penjelasan di atas, dapat dilihat di bawah ini:

      Konotatif



 

 Verbalis                        Denotatif

Sisi verbalis dan sisi konotatif mempunyai hubungan langsung, artinya apa yang diucapkan dapat diinterpretasikan, dan dicari maknanya oleh setiap orang. Sisi verbalis dan sisi denotatif tidak terhubung secara langsung, karena apa yang dikatakan tidak mesti langsung terwujud dalam kenyataan.

B. Kebenaran ilmiah  dalam Pancasila
Pengetahuan manusia tidak akan mencapai pengetahuan yang mutlak, termasuk pengetahuan tentang Pancasila, karena keterbatasan daya pikir dan kemampuan manusia. Pengetahuan manusia bersifat evolutif. Pengetahuan yang dikejar manusia identik dengan pengejaran kebenaran.
 Pengetahuan manusia merupakan proses panjang yang dimulai dari purwa-madya-wasana. 
Dari kriteria ini diperoleh empat macam teori kebenaran:
1.    Teori kebenaran koherensi
2.    Teori kebenaran korespondensi
3.    Teori kebenaran pragmatisme
4.    Teori kebenaran konsensus
Kebenaran koherensi ditandai dengan pernyataan yang satu dengan pernyataan yang lain saling berkaitan, konsisten, dan runtut. Pernyataan yang satu dengan yang lain tidak boleh bertentangan
 Kebenaran korespondensi ditandai dengan adanya kesesuaian antara pernyataan dan kenyataannya.
 Kebenaran pragmatis berdasarkan kriteria bahwa pernyataan-pernyataan yang dibuat harus membawa manfaat. Pernyataan harus dapat ditindaklanjuti dalam perbuatan dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi.
 Kebenaran konsensus didasarkan pada kesepakatan bersama. Suatu pernyataan dikatakan benar apabila disepakati oleh masyarakat atau komunitas tertentu yang menjadi bagian dari proses konsensus. Akan tetapi tidak semua kesepakatan umum itu benar, karena ada syarat tertentu untuk terwujudnya kebenaran konsensus. Menurut Jurgen Habermas, ada empat syarat, yaitu keterpahaman, diskursus/wacana, ketulusan/kejujuran dan otoritas.

C. Ciri-ciri  Berpikir Ilmiah-Filsafati dalam Pembahasan Pancasila
Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi sehingga pengetahuan itu dapat dikatakan sebagai suatu ilmu. yaitu:
1.    Berobjek
2.    Bermetode
3.    Bersistem
4.    Bersifat umum / universal.

D.    Bentuk dan Susunan Pancasila
1.    Bentuk Pancasila
Pancasila di dalam pengertian yaitu sebagai rumusan Pancasila sebagaimana tercantum di dalam alinea IV Pembukaan UUD’45. Pancasila sebagai seuatu sistem nilai mempunyai bentuk yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.  Merupakan kesatuan yang utuh
b.  Setiap unsur pembentuk Pancasila merupakan unsur mutlak yang membentuk kesatuan, bukan unsur yang komplementer.
c.   Sebagai satu kesatuan yang mutlak, tidak dapat ditambah atau dikurangi.
2. Susunan Pancasila
Susunan sila-sila pancasila merupakan kesatuan yang organis, satu sama lain membentuk suatu sistem yang istilah majemuk tunggal. Majemuk tunggal artinya terdiri dari 5 sila tetapi merupakan satu kesatuan yang berdiri sendiri secara utuh. Selanjutnya bentuk dan susunan Pancasila adalah hierarkis-piramidal. Hierarkhis berarti tingkat, sedangkan piramidal dipergunakan untuk menggambar-kan hubungan bertingkat dari sila-sila Pancasila dalam urutan luas cakupan dan juga isi pengertian. Pancasila sebagai satu kesatuan sistem nilai, juga membawa implikasi bahwa antara sila yang satu dengan sila yang lain saling mengkualifikasi. Hal ini berarti bahwa antara sila yang satu dengan yang lain, saling memberi kualitas, memberi bobot isi.

E.  Refleksi terhadap Kajian Ilmiah tentang Pancasila di Era Global
Kajian ilmiah tentang Pancasila sejak disyahkan tanggal 18 Agustus 1945 sampai saat ini mengalami pasang surut. Notonagoro, Driyarkara merupakan tokoh-tokoh/ilmuwan yang mengawali pengkajian Pancasila secara ilmiah populer dan filosofis,yang menghasilkan suatu yang bermakna bagi perkembangan Pancasila sebagai dasar negara.
masih terbukanya bahan dialog dan  kajian kritis  terhadap Pancasila sehingga diperoleh interpretasi baru untuk memperoleh makna terdalam dari sila-sila Pancasila. Di era global secara langsung maupun tidak langsung banyak ideologi asing yang gencar menerpa masyarakat  Indonesia. Hal ini terkadang tidak disadari oleh masyarakat kita, bahkan mereka banyak yang menganggap bahwa nilai-nilai dan ideologi asing justru menjadi pandangan hidupnya seperti materialisme, hedonisme, konsumerisme. Dengan adanya gejala tersebut semakin diperlukan sebuah kajian kritis terhadap Pancasila sebagai sumber nilai bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Diharapkan masyarakat kita semakin kritis dalam menentukan pilihan pandangan hidup, sikap dan gaya hidupnya yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari budaya bangsa. Dengan demikian, masyarakat Indonesia memiliki prinsip-prinsip hidup yang kokoh, orientasi hidup yang jelas dalam bersikap dan berperilaku sehingga tidak terombang-ambing mengikuti arus global.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers

Calendar